Tentang Sunyi, Hilang dan Cinta yang Datang

Standar

Gema takbir telah ramai dikumandangkan selepas maghrib tadi. Mataku tak lepas memperhatikan jalanan melalui kaca tembus pandang dari kantor tempat ku bekerja.
Sesekali ku putar lagu kesukaanku untuk membuang rasa sunyi.
Sementara sedari tadi, blackberry-ku tidak sepi dari bunyi, ada saja broadcast yang masuk dari teman-teman di kontak untuk sekadar mengucapkan selamat Idul Fitri dan memohon maaf.

Tidak peduli mereka latah mengucapkan maaf atau benar-benar tulus meminta maaf, hanya di hari ini, orang-orang ramai meminta maaf. Sungguh, betapa indahnya Idul Fitri.

Beberapa saat yang lalu aku membuat beberapa postingan di akun twitter pribadiku, yang menggambarkan betapa sedihnya aku tidak dapat berkumpul dengan sanak saudara seperti kebanyakan orang di malam Idul Fitri.
Tidak lama kemudian, hatiku terenyuh dan malu pada diri sendiri, ada yang lebih besar pengorbanannya daripada aku.
Saat pulang bekerja menyusuri jalan, aku menyaksikan para polisi yang siaga mengatur jalanan yang menjadi ruwet pada malam ini. Atau satpam di komplek rumahku, yang bahkan untuk shalat Ied besok saja mereka tak bisa menunaikan karena harus tetap bertugas. Atau mungkin tukang sampah di komplek rumahku, saat orang ramai bermain kembang api, menyantap hidangan lebaran dan bercengkrama dengan keluarga, beliau masih setia mengais sampah.

Di sudut hati yang lain, aku meringis, ini kali pertama berlebaran tanpa abah. Masih jelas di ingatan, sejak 2 kali lebaran yang lalu, beliau tak mampu menikmati puasa dan Idul Fitri dalam kondisi dan suasana yang sempurna. Sementara lebaran kali ini, Allah telah menjemputnya, kini ia telah tiada. Sudahlah, aku tidak mau mengundang air mata.

Di sudut hati yang lainnya, ada yang tumbuh dan kian besar di hati yang kecil ini. Bibitnya ditanam oleh Tuhan, lalu berakar di hati. Kemudian tumbuh dan mekar menjadi bunga yang harumnya mampu menepis dan menipiskan kesedihan, yang warnanya mampu lebih indah dari pelangi menghiasi hati ini.
Terima kasih untukmu, yang selalu menjadi semangat dan kuatku hingga saat ini.

Takbir terus berkumandang. Semoga pintu maaf juga terus terbuka, hari ini, besok dan hingga kapanpun tidak peduli hari biasa atau hari raya agar pada hari akhir nanti semua berlapang dada. Aamiin.
Selamat Idul Fitri 1434 H. Mohon maaf lahir dan batin.
Widya, sekeluarga.

Bagaimana ya Rasanya Jadi Kamu?

Standar

Bagaimana ya rasanya jadi kamu?
Menggenggam harapan orang lain, sementara kamu menaruh harap kepadaku.

Bagaimana ya rasanya jadi kamu?
Setiap hari mengumbar kata sayang kepadanya, sementara di hatimu, aku dalam bayang-bayang.

Bagaimana ya rasanya jadi kamu?
Dia yang sekarang penuh cinta kepadamu akan kamu pastikan jadi masa lalumu, sementara aku yang tidak tahu menahu denganmu telah kamu rencanakan jadi masa depanmu.

Aku penasaran, bagaimana ya rasanya jadi kamu?
Ingin mengikat aku, sementara aku terlanjur terpikat hati yang lain.

Hilang

Standar

Aku tidak heran lagi dengan kedatanganmu yang tiba-tiba. Seperti dulu, aku telah terbiasa dengan kepergianmu yang semena-mena.

Tak usah kau ucap maaf, memangnya salahmu mana yang tidak pernah aku maafkan?

Kau tahu tidak? Terkadang ada hal-hal yang sulit untuk dilupakan bahkan untuk seorang pelupa ulung sekalipun.

Tapi aku mohon, jangan meminta aku untuk mengingat yang telah lalu.

Kamu tidak mengerti, untuk mampu menghadapimu terlebih tersenyum lagi padamu, aku telah berenang di laut luka dan nyaris tenggelam dalam kubangan air mata.

Maaf untukmu mana yang tidak pernah aku beri? Tapi tolong, jangan minta aku untuk kembali.

Aku Tidak Bisa Mencintai Dia Biasa-Biasa Saja

Standar

“Cintailah seadanya”, kata pepatah bijak suatu hari.
Tapi aku tidak bisa berpura-pura mencintai dia seadanya saja.
Aku tidak bisa berbohong bahwa mencintai dia itu biasa-biasa saja.
Sekalipun ia jarang memberi perhatian, aku selalu sabar untuk ia yang selalu besar di dalam hati kecil ini.

Mataku tak selalu melihatnya, telingaku tak selalu mendengar suaranya dan lenganku belum sanggup memeluknya, maka caraku menjaganya ialah melalui do’a, layaknya bulan yang menjaga malam untuk tetap terang.

Cintaku tidak buta, meski aku jarang mendapat perhatian darinya, aku tidak butuh perhatian dari hati yang lain. Semoga dengan caraku menjaga hatiku sepenuhnya untuknya, ia juga menjaga hatinya untukku. Karena aku percaya, bila kita menanam kebaikan, kita juga akan menuai kebaikan, dan berlaku sebaliknya.

Aku bersyukur dipertemukan dengannya dan bersyukur atas rasa cinta yang Allah tanam di hati ini. Ia bahagiaku dan aku bahagia memperjuangkannya. Pasrah kepada Allah dan berharap ridha-Nya, begitulah caraku mencintainya.

Sekali lagi, aku tidak bisa mencintai dia biasa-biasa saja.

Setengah Lusin Wejangan dari Kakak

Standar

21 tahun hidup bersamanya, aku adalah satu-satunya adik perempuannya yang hidup berdampingan dengannya.
Dulu ketika aku kecil, ia yang mengajariku bersepeda, hingga beranjak remaja ia juga yang ikut mengajariku bagaimana caranya mengendarai sepeda motor.
Pernah suatu ketika, aku ditabrak lari dan jatuh dari sepeda motor, waktu itu ia yang panik dan ingin mengejar si pelaku, tapi aku yang mencegahnya.
Pernah juga suatu hari, kala aku ingin berangkat kerja, waktu itu sedang terjadi kebakaran di dekat rumah, ia melarangku untuk berangkat, katanya jangan dulu menyebrang, tunggu sampai semua rombongan pemadam kebakaran itu berlalu, bahaya kalau sampai aku ditabrak, namun ia tahu aku tipe orang yang keras kepala dan akhirnya ia yang dengan ringan hati mengantarkanku menyebrang jalan.
Kadang, ia juga begitu menyebalkan.
Dulu ia sering mengejekku karena waktu sekolah aku tidak pernah punya pacar, hingga akhirnya ia berhenti mengejekku setelah aku tahu ia membaca isi sms-ku secara diam-diam, ada seseorang yang menyatakan cintanya kepadaku melalui sms tersebut.

Dan inilah setengah lusin wejangan dari dia ketika aku mulai beranjak dewasa:
1. “Wid, cari pacar itu benar-benar! Ingat, nikah itu sekali aja seumur hidup.”
2. “Wid, kalau mampir ke rumah teman (laki-laki), kalau dikasih air minum, jangan diminum! Barusan dapat info, ada cewek yang dibius dari minuman lalu ditiduri.”
3. “Kalau nanti ada (laki-laki) yang berani mukulin kamu, jarinya yang aku potong-potong!”
4. “Wid, kalau pacaran, jangan terlalu dalam! Selama belum ada ijab qabul, pokoknya jangan!”
5. “Aku ini laki-laki. Sepolos-polosnya laki-laki, sekalipun ia tak pernah pacaran, mau dia berpendidikan atau tidak, aku tahu sepenuhnya sifat laki-laki. Pokoknya, hati-hati!”
6. “Wid, kamu itu adikku. Wajar kalau aku khawatir.”

Terima kasih, Bang :’)

Ternyata Belajar Mencintai Jauh Lebih Sulit daripada Belajar Memaafkan

Standar

Ada yang bilang, cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.
Ada juga yang bilang, cinta dapat tumbuh dan berkembang dari perhatian-perhatian.
Ada lagi yang bilang, lebih baik dicintai daripada mencintai.

Tapi, pernah tidak merasakan bahwa belajar mencintai ternyata jauh lebih sulit daripada belajar memaafkan kesalahan orang lain?

Aku pikir, dicintai tanpa balas mencintai sama menyedihkannya dengan kita yang mencintai tapi tidak mendapat balasan dicintai.

Andai aku kuasa, aku akan memilih membalas cintanya, hingga aku tak perlu lagi menunggu-nunggu cinta yang lain.

Tapi aku tidak bisa.
Sekalipun aku sendiri, sekalipun tidak ada siapa-siapa yang menemani, sekalipun hatiku hampa, sekalipun aku dihujani dengan berjuta perhatian darinya, tetap saja ruang hati ini menolak untuk diisi oleh hati yang memang bukan pemiliknya.

Dulu aku pikir, lebih baik dicintai daripada mencintai.
Namun ternyata keindahan cinta itu terletak pada dua yang sama-sama saling mengisi.

Ternyata benar, belajar mencintai jauh lebih sulit daripada belajar memaafkan sebuah kesalahan yang fatal sekalipun.
Ternyata cinta yang baik, meski ruang hatinya kosong, akan menempatkan dirinya pada tempat yang semestinya.

Jadi, ini yang namanya, cinta tidak dapat dipaksakan?

Kau, di mana Aku adalah Tulang Rusukmu yang Hilang Satu

Standar

Bertemu denganmu adalah kesempatan. Setelahnya, aku memilih untuk mencintaimu atau tidak, itu adalah pilihan.
Lebih dari itu, aku memilih untuk berjuang. Apa yang aku perjuangkan? Adalah kau. Kenapa harus ku perjuangkan? Karena bagiku, kau adalah bagian-bagian dari doa-doaku yang diijabah oleh Tuhan. Sebab bertemu denganmu, membuatku seolah-olah berhenti mencari.
Aku tidak pernah meminta kepada-Nya, seseorang yang tampan lagi kaya raya. Aku minta kepada-Nya, seseorang yang baik hatinya, baik rupanya, baik akhlaknya, baik budi pekertinya, baik agamanya, baik keluarganya, dan semoga itu adalah kau, di mana aku adalah tulang rusukmu yang hilang satu.