Monthly Archives: November 2011

Happy Islamic New Year 1433 Hijriah

Standar

Terlalu sulit bagiku untuk merangkai kata-kata menjadi kalimat yang sepadan dan bisa berdendang, setidaknya untuk malam ini. Ku akui, aku memang sedang kalut. Tidak banyak sebenarnya yang ingin ku utarakan. Aku hanya ingin merenung. Sederhana saja, ya kan? Merenungkan apa saja yang sudah lewat setahun ini. “Selamat Tahun Baru Islam 1433 H”. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan selalu diberkahi oleh-Nya. Aamiin. 🙂

Image

Mawar Mati

Standar

Kamu selalu tiba-tiba datang, tiba-tiba hilang

Sekali datang hadirmu begitu menyejukkan

Sekali hilang bayangmu tak pernah lekang dimakan zaman

Aku curiga, seperti halnya aku yang pelupa, apakah kamu juga demikian adanya?

Selalu lupa membawa kembali bayang-bayang fatamorgana

Sementara aku selalu lupa bahwa aku seharusnya sudah jauh melupakanmu.

Dulu kau bilang aku adalah Mawar

Dulu kau anggap aku adalah bunga yang selalu tumbuh dihatimu

Ya, seperti halnya Mawar, aku selalu ingin mekar

Aku  selalu menunggu-nunggu kedatanganmu

Berharap kau datang untuk menyiramkan air cinta untukku

Berharap  kau datang membawa sekarung pupuk kasih sayang untuk kau berikan padaku

Tapi kau hanya jadikan aku pajangan di depan halaman lalu memamerkanku pada semua orang

Suatu hari aku melayu, kemudian aku mati

Lalu kau cabut dan kau buang aku begitu saja seolah-olah seraya bekata “Karena kau sudah mati, kau tidak indah lagi untukku”

Kau salahkan aku yang membuat aku tidak indah lagi di matamu

Memangnya bunga mana yang dapat tumbuh mekar dan indah bila hanya dibiarkan dan tanpa kau pedulikan?

Original created by: Widya Asnita

Jangan Salahkan Aku Berhenti Belajar Mencintai

Standar

Saya belajar membuka hati
Pada dia yang dahulu saya tidak peduli
Saya ingin mengalah kepada diri sendiri
Agar kelak tidak ada yang patut untuk disalahkan
Agar kelak bukan Tuhan yang dijadikan kambing hitam

Saya belajar menerima cinta yang baru
Dari seseorang yang telah saya kenal sejak dulu
Seseorang yang saya tahu sempat menaruh rasa, namun saya tiada mengacuhkannya
Seseorang yang sekarang sepertinya pandai bermain cinta

Saya selalu benci jika ditanya kenapa
Namun kerap kali saya selalu bertanya “kenapa?” kepada Tuhan
“Kenapa Tuhan, kala saya belajar membuka hati ia seperti ini?”
“Kenapa Tuhan, saat saya belajar mencintai, kecewa yang saya dapati?”

Saat aku seperti menjadi muridmu, murid yang belajar mencintaimu, kenapa kamu bersedia menjadi guru?
Kamu seolah-olah selalu beriku kesempatan untuk mengangkat tangan semua pertanyaan yang seorang guru ajukan, tapi kemudian kamu pilih tangan yang lain!
Kemudian aku kembali duduk
Kembali menunduk
Kembali terpuruk
Pintu hatiku untukmu kembali tertutup!

Yang Spesial di Tanggal yang Spesial “11/11/11”

Standar
Yang Spesial di Tanggal yang Spesial “11/11/11”

Di antara kepenatan dan ribuan yang dipikirkan, disini saya duduk, sendiri, menikmati sisa-sisa cahaya mentari. Ada banyak yang berbahagia hari ini. Barangkali ada yang baru melahirkan buah hati, ada yang baru resmi menjadi suami istri, dan barangkali adapula yang berniat menyatakan cinta dan berharap cintanya diterima. Konon, 11/11/11 ini baru muncul 100 tahun lagi. Tidak percaya? Silakan hitung sendiri!

Kadang saya terlalu ingat pada suatu waktu, tapi seringkali saya lupa akan hal itu. Tahun baru tahun lalu, misalnya. Samar-samar diingatan saya bagaimana saya menyambut permulaan 2011, hampir sebelas bulan yang lalu. Yang saya ingat, saya tidak lagi meniup terompet atau menyalakan kembang api. Tahun baru masehi, bagi saya, mengapa harus diagungkan daripada tahun baru Hijriah?

Waktu terus berlalu. Kita tak punya kuasa untuk memutarnya kembali atau memintanya untuk berhenti. Perlahan tapi pasti, ada banyak hal yang harus dilalui. Tahun ini, bagi saya, terlampau banyak kasih sayang yang Allah tunjukkan kepada keluarga saya. Sedikit banyaknya, saya belajar banyak hal. Saya belajar sabar, belajar ikhlas, dan belajar berpikir positif.

Kejadian demi kejadian telah  membuka mata dan hati untuk melihat siapa yang benar-benar peduli dan  siapa yang selalu disisi, saat suka maupun terluka. Menurut saya, tempat kembali terindah sebelum surga adalah keluarga. Menurut saya lagi, tenaga, waktu, kesehatan, dan kesetiaan adalah hal-hal yang tidak dapat digantikan dengan uang.

Kadangkala saya merenung. Di usia saya yang kurang dari 2 bulan lagi menginjak kepala 2, masalah terbesar yang saya hadapi masih tidak jauh-jauh dari sekolah, seperti saat ini misalnya. Mayoritas yang menghinggapi pikiran saya adalah Karya Tulis Ilmiah, meski ada perihnya perihal lain yang tidak dapat saya utarakan. Urusan cinta kepada sesama, kepada lawan jenis maksudnya, adalah masalah yang lain lagi. Bagi saya tidak sebesar masalah lainnya. Lalu kenapa ada begitu banyak orang-orang yang menangis dan terus mengeluh kala dikhianati pacarnya? Hey, dia masih pacar! Berterimakasihlah kepada Tuhan untuk kalian yang tahu sedari dini kalau ternyata  kalian dikhianati sebelum akhirnya terlambat tahu dan terlanjur telah menjadi suami/istri!

Ada banyak orang yang mengagungkan tanggal hari ini. 11/11/11. Angka yang sangat cantik, secantik hati kalian yang berkenan membaca tulisan saya ini. Saya juga tidak mau kalah dengan mereka. Sebenarnya, inti dari tulisan saya ini adalah saya persembahkan untuk seorang yang terkasih. Yang tak terganti. Mama, yaitu ibu juara satu diseluruh negeri. Yang tanpa dia, aku tidak tahu akan kemana, menjadi apa, dan bukan siapa-siapa. Terimakasih, Mama. Hadirmu begitu mulia. Cintamu menghangatkan semesta. Semesta untuk abah, aku, Kak  Erwin, Ari, Adi, dan Ajie. 🙂

My Hearts

Buku Kecil “Cinta Cangkang Telur”

Standar

Kata Pengantar

Burung-burung tetap pada sarangnya. Namun saat telur yang sedang dieraminya jatuh ke tanah, ia segera meluncur seolah-olah mampu menahan. Namun telur itu telah lebih dulu rata dengan tanah. Tapi setidaknya ia sempat memperjuangkan cintanya agar sesalnya tidak terlalu lama.

Bab I

Langkah kakinya terseret-seret melewati koridor yang sempit lagi gelap. Tulangnya yang kian rapuh dimakan zaman membuat ia kesulitan dalam berjalan. Tangan kanannya berusaha keras mengayuhkan tongkat agar ia sampai duduk ke kursi roda didekat jendela. Dari balik tirai putih itu, ia menatap bunga matahari yang tertunduk layu karena tiada lagi mentari pagi. Sementara ia, tertunduk lesu meratapi sesalnya hingga hari ini. “Seperti katamu, aku tetap tegar, Mentari!” katanya lirih.

Bab II

Tegar memilih tempat duduk dibaris kedua dari belakang di kelas tempat ia akan menuntut ilmu. Hari itu adalah hari pertama Tegar menjadi pelajar SMA. Tanpa sadarnya, semburat merah jambu telah mewarnai pipi putih dari gadis bernama Mentari karena telah ia salami. Kemudian langkah kaki sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa telah sampai didepan mereka. Semua yang ada dikelas membisu. “Selamat pagi. Perkenalkan saya adalah wali ke…” dan begitulah seterusnya pada hari pertama tahun ajaran dimulai.

Bab III

Pagi itu matahari bersinar cerah. Sama cerahnya dengan perasaan Mentari hari itu. Ia merasa sedikit lebih bebas dari tugas sekolah. Dan yang paling indah, hari itu Tegar mengikuti lomba 17 Agustus. Mentari semangat menyemangatinya. Tanpa sengaja sepasang mata mereka bertemu dan membuat kelereng yang ada didalam sendok yang sedang dibawa Tegar dengan mulutnya terjatuh sebelum mencapai garis finish. Ia kalah, tapi tersenyum. Ia merasa ada sedikit sengatan listrik yang membuatnya sedikit gemetar saat matanya bertemu dengan mata Mentari. “Tak apa. Seperti namamu, kamu harus tetap tegar, Tegar!” Mentari menyemangatinya.

Bab IV

Siang itu, Mentari duduk sendiri didepan kelas. Sekolah yang sepi membuatnya melirik jam ditangannya sedari tadi. “Ayah masih lama…” ucapnya lirih. Tanpa disangka, Tegar datang dan menyodorkan 1 cup es krim kepadanya. Kini, warna pipinya hampir sama dengan warna tali jam tangan merah muda yang dikenakannya. “Kamu pernah jatuh cinta?” Tegar membuka suara. “Heeh..” jawab Mentari singkat. “Seperti apa rasanya?” Tegar kembali bertanya. “Seperti saat ini…” jawab Mentari lagi. Lalu ia berlalu pergi dan meninggalkan Tegar karena ayahnya sudah sampai didepan gerbang sekolah. Lalu Tegarpun tersenyum.

Bab V

Hari itu, Tegar menghadiahi Mentari sebuah boneka kecil berwarna cokelat sebagai tanda perpisahan di hari perpisahan sekolah mereka. “Hanya ini?” tanya Mentari dalam hati. “Terimakasih!” ucapnya singkat.

Bab VI

3 Tahun usai mereka lulus sekolah, dua insan itu masih erat berhubungan. Mentari, tetap semangat dan sinarnya tak redup menanti pepatah cinta dari Tegar.  Tegar, dengan ketegarannya, menyatakan cintanya dengan caranya sendiri. Dengan cara yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun.

Bab VII

Pagi itu Tegar begitu semangat mengawali hari. Hari ini, Teguh kakaknya akan datang mengenalkan calon isteri. Kebahagiaan itu membuka pikirannya untuk jujur terhadap orang yang selama ini telah lama dihatinya. Orang yang belakangan ini susah untuk ia hubungi. Dia mengambil telepon genggamnya, menekan nomor telepon yang sudah ia hapal dliluar kepala. “Mentari, angkat!” katanya tak sabar. “Halo.. Tari.. aku ingin bicara. Boleh kita ketemu?” Tegar langsung pada inti pembicaraan. “Aku juga ingin bicara. Tapi lewat telepon ini saja.” Mentari membuka suara. “Oh.. silahkan!” Tegar menjawab. “Tegar, seseorang telah datang kepadaku dan kepada kedua orangtuaku seminggu yang lalu. Ia menyampaikan rasa cintanya kepadaku dihadapan kedua orang tuaku. Tak ada cacat sedikitpun darinya dimata kedua orang tuaku sebagai calon suami untukku. Mereka merestuinya. Aku mengenalnya 2 tahun yang lalu sebagai seniorku di kampus. Dia teguh pada pendiriannya untuk tetap mengejar aku. Berkali-kali ia ungkapkan cinta namun aku tidak menjawabnya. Kini aku merasa, rasa ini telah sampai diujung lelahku. Aku lelah untuk menanti cinta yang tak pasti. Aku juga lelah untuk lari dari cinta yang pasti. Aku memilih untuk bertahan dan menerima cinta yang ada. Aku yakin, kebersamaan akan menumbuhkan rasa cinta itu. Rasa cinta yang seperti sekarang namun tidak lagi terpendam!” Mentari mengusap air mata yang jatuh ke pipinya usai menjelaskan perihnya perihal yang ia sampaikan pada Tegar, cinta yang ia tinggalkan.

Bab VIII

Hari itu, Tegar menjadi saksi pada pernikahan kakaknya, Teguh. Kini, Mentari yang masih ia cintai duduk cantik disamping kakaknya. Ia menjadi wanita tercantik hari itu. Tegar menjadi orang yang paling rapuh saat itu, namun tetap berusaha bersembunyi dibalik senyum dibibirnya. Sama halnya dengan Tegar, Mentari masih saja menyembunyikan wajah keterkejutannya dibalik rias cantik wajahnya, masih tidak percaya bahwa Teguh, suaminya adalah kakak dari Tegar.

Bab IX

Sesal Tegar tiada berujung. Ia tak pernah ragu pada perasaannya. Namun ia selalu kembali tak berani untuk mengungkapkan perasaannya.  Dilain tempat, Mentari perlahan-lahan mengubur kenangannya. Ia merapikan semua perkakasnya ke dalam kardus. Hari itu, ia akan pindah ke rumah barunya besama Teguh. Boneka kecil berwarna cokelat yang dulu diberikan Tegar kepadanya ditatapnya dalam-dalam. Dengan erat ia pegang boneka itu sebagai tanda perpisahan, sebagaimana tanda perpisahan yang pernah diberikan oleh Tegar kepadanya waktu itu. Namun ketika ia memegang erat boneka itu dan bemaksud hendak mendekapnya, boneka itu menimbulkan suara “I LOVE YOU”. Tak percaya, sekali lagi ia tekan dengan sekuat tenaga, boneka itu seolah-olah mewakili Tegar untuk mengucapkan “I LOVE YOU”. Air mata membanjiri kedua pipinya yang putih pucat.

Penutup

Nasi telah menjadi bubur. Cangkang telur telah hancur. Tak dapat diubah-ubah. Barangkali, kehidupan kembali pada kehidupan. Belajar kepada alam, bahkan tentang cinta sekalipun.

 

*pengemasan cerpen diatas dalam bentuk ‘buku kecil’ terinspirasi dari penyair favorit saya, M. Aan Mansyur 🙂

Originaly created by: Widya Asnita