Monthly Archives: Januari 2012

Surat Cinta Untuk Tuhan

Standar

Bolehkah aku sebut ini sebagai Surat Cinta Untuk Tuhan?

Seorang wanita paruh baya terlihat sangat rusuh dengan membopong seorang pria paruh baya yang mulutnya ditutupi masker berwarna hijau dengan kursi roda. Ia menghentak-hentakkan tangannya ke meja petugas rumah sakit dengan mata menyulut emosi karena petugas itu lebih mementingkan administrasi dibanding keselamatan pria paruh baya itu. Pria itu terlihat begitu lemah. Kelopak matanya terus bercucuran air mata, sementara dibalik masker hijaunya, mulutnya tak berhenti mencucurkan darah. ia nyaris kehilangan semangat hidup waktu dokter memvonisnya terkena tumor ganas di mulut nyaris stadium 4. Badannya kurus dan menguning. Ia lebih tepat disebut mayat hidup, saat itu. Semalam sebelum pagi harinya ia dibopong wanita paruh baya itu ke rumah sakit, ia melihat almarhumah ibunya menjemput didepan pintu rumahnya. “Mama! Mama!” teriak pria paruh baya itu sambil menunjuk ke arah pintu. “Tidak ada Mama, Bah! Tidak ada!” teriak wanita paruh baya yang tidak lain adalah istrinya. “Kita ke rumah sakit sekarang, ya?” sambungnya lagi dengan nada cemas!”. “Aku masih kuat!” jawab pria itu. Jawaban yang selalu sama setiap kali dilontarkan pertanyaan yang sama.
.
.
.
“Tuhan..
Coba kau lihat dia
Ia sekarat meregang nyawa
Ah, bukankah Kau Maha Melihat?

Tuhan..
Tidakkah kau kasihan
Aku lebih rela Kau utus Izrail-Mu untuk melepas nyawa yang dikandung dihayatnya
Ia kesakitan menanggung pesakitan
Ah, bukankah Kau Maha Pengasih?

Tuhan..
Tak sedikit waktu, tenaga, dan uang yang dikorbankan untuk merawatnya selama hampir 12 bulan
Tidakkah Kau tahu?
Ah, bukankah Kau Maha Tahu? ”
.
.
.
15 malam 16 hari Pria paruh baya itu dirawat di rumah sakit. Istrinya tetap setia mendampinginya. Butuh 3 kantong darah tambahan sebelum akhirnya 8 kantong darah yang dibutuhkan untuk ‘mengembalikan’ nyawa pria itu. Ia rela bemalam-malam tak nyenyak tidur untuk menjaga suaminya.
Sepulangnya mereka ke rumah. Sang istri rela bangun pagi-pagi memasakkan bubur untuk suaminya. Jangan pernah kalian bayangkan bubur yang dimaksud adalah bubur ayam. Bubur itu terbuat dari tepung beras, kemudian disaring lalu dicampur dengan susu nutrisi khusus untuk penderita kanker. Jangan juga kalian bayangkan bubur itu dapat disuapkan melalui sendok ke dalam mulut. Ada segumpal daging yang sungguh mengeluarkan bau busuk dari dalam mulut itu. Jadi, bubur itu disuntikkan ke dalam selang yang dimasukkan ke dalam hidung untuk sampai di bagian lambung. Hal Itu berlangsung setiap pukul 6 pagi. Kemudian pukul 7, sang isteri kembali menyuntikkan obat-obatan melalui selang yang sama. Pukul 9 sang isteri menyuntikkan rebusan air daun sirsak. Pukul 11 menyuntikkan obat tradisional (jamu, red). Pukul 12, kembali bubur tepung terigu yang dicampur susu. Sejam kemudian obat-obatan. Pukul 3 siang saatnya menyuntikkan jus brokoli. Pukul 5 sore jus tomat. Pukul 7 bubur lagi. Pukul 8 jamu lagi, dan hendak tidur malam disuntikkan obat kembali. Ya, segalanya harus disuntikkan melalui selang yang kaum kesehatan namai dengan sebutan Feeding Tube. Bahkan tengah malampun sang istri terjaga untuk kembali menyuntikkan susu nutrisi untuk sang suami. Hal ini berlangsung setiap hari. Tidakkah pria paruh baya itu sungguh beruntung? Tidakkah sang istri sungguh mulia? Aku yakin, surga dibawah telapak kakinya berpindah ke telapak tangannya. Ia dapat memasuki pintu surga dari mana saja. Semoga.

Pria paruh baya itu adalah ayahku, dan wanita berhati mulia itu adalah ibuku. Jangankan ayahku, akupun hampir putus asa menghadapi ini semua waktu itu.
.
.
.
“Tuhan..
Karena Kau Maha Melihat, Maha Pengasih, Maha Tahu, dan dengan sifat-sifat-Mu yang Maha Segalanya
Kami masih bernafas hingga saat ini
Karena sifat pemurah-Mu, tumor ganas stadium 4 di rahang Ayahku yang divonis dokter takkan sembuh, pada akhirnya sembuh atas izin-Mu, atas kemuliaan hati yang Kau tanam dalam hati ibuku
Tuhan..
Terimakasih atas kesempatan yang Kau berikan kepada kami untuk belajar menjadi orang yang sabar dan ikhlas menjalani kehidupan
Dari sini aku tahu bahwa , tenaga, waktu, kesehatan, dan kesetiaan adalah hal-hal yang tak bisa digantikan dengan uang begitu mudahnya
Dari sini aku tahu mana yang benar-benar berempati dan mana yang pura-pura bersimpati. Barangkali tidak peduli lebih baik daripada manis didepan tapi bertepuk tangan dibelakang.
Dari sini aku tak mau lagi mengisi “What Happening?”-nya Facebook ataupun Twitter dengan tulisan semacam “Get Well Soon, Abah” atau “Semoga abah baik-baik saja”. Aku malu, Tuhan. Aku ditertawakan menulis semacam itu. Apa mereka pikir aku meminta belas kasihan?
Tuhan..
Kiranya lautan yang ada di bumi ini dijadikan tinta, tak cukup jua menuliskan segala tentang-Mu, tentang kebesaran-Mu, dan tentang kemurahan-Mu

Aku dan maafku,

Hamba-Mu yang masih belum sempurna dalam menyembah-Mu.”

#30HariMenulisSuratCinta

Dear Banjarmasin

Standar

Kertak Hanyar, 23 Januari 2012

Seperti telur mentah yang pecah dari cangkangnya, kuning telur perlahan membaur bersama albumin, seperti itulah langit sore yang memayungi kota yang aku tempati lebih dari 20 tahun 2 minggu ini.
Banjarmasin. Inilah kota yang aku tinggali sejak dari masih dalam rahim.
Kalau kau sering mendengar istilah ‘kota seribu sungai’ yang dimaksud adalah Banjarmasin
Kota yang sempat diduduki oleh Jepang pada tahun 1942 ini juga terkenal dengan Pasar Terapung-nya.
Kalau kalian sedang berkunjung ke Banjarmasin, tak lengkap rasanya bila tak mencicipi kue-kue yang dijajakan ibu-ibu diatas perahu kecil yang terapung di atas sungai. Tepatnya, kalau kalian berlibur ke Banjarmasin, kalian harus ke Pasar Terapung! Hehe
Tapi… Jujur, sebagai orang asli daerah sini, aku tak pernah pergi ke tempat itu. Aku punya alasan yang kuat, kok. Pertama, aku tak bisa berenang. Kedua, aku mempunyai ibu yang teramat protektif dan tak memberi restu bila ku pergi ke tempat itu. Tapi, seberapa kuatpun alasan yang aku miliki, tetap saja rasanya menyedihkan, ya? Huks!

Dear Banjarmasin..
Aku selalu merasa beruntung ditakdirkan Tuhan karena lahir, tumbuh, dan berkembang di tempat ini. Tempat yang menurutku paling aman dan nyaman. Sekali lagi, ini menurutku.
Namun aku punya mimpi. Suatu hari kota ini tak lagi panas dan terasa gersang. Di pinggir-pinggir jalan di penuhi bunga dan pepohonan yang rindang. Di sisi jalan tersedia jalur pesepeda dan pejalan kaki. Aku juga ingin kota ini punya Bus Way. Banyak halte bus tempat menunggu dan semuanya teratur. Tak banyak lagi mobil dan sepeda motor yang asapnya kemana-mana. Kasihan mereka yang paru-parunya sakit. Bisa? Udah, aku mau bilang itu aja.

Salam sejuk,

Aku

#30HariMenulisSuratCinta

Indah Pada Waktunya

Standar

Aku tak pernah terlalu menggantungkan asa sedemikian rupa hingga ternyata kebalikannya memberikan sakit yang luar bi(n)asa. Lebih tepatnya, aku tak terbiasa.

Saat buliran air mata pecah dari sarangnnya, aku berlari ke dalam kamar, mengunci pintu, dan menangis tersedu-sedu. Sekarang aku  bersyukur bahwa tembok hanya menjadi saksi bisu. Andai ia bisa bicara, betapa banyak rahasia dan luka yang terkuak padahal tak ingin ku perlihatkan kepada siapa-siapa.

Aku memandang ponselku.

Entah mengapa yang terlintas dalam benakku adalah bercerita dengan caraku sendiri kepada dia.

 

Aku: “Aku menaruh harapan yang tinggi. Jauh menjulang tinggi dari ubun-ubun kepala. Ku pikir aku bisa menjangkaunya, ternyata harapan menendangku tanpa ampun hingga jatuh seperti jatuh dari atap gedung bertingkat sepuluh. Sakit luar bi(n)asa, tapi bukan raga. Jika kau seperti aku yang mengalami hal itu, apa yang akan kau lakukan untuk mengobati lukamu?

Yong Hwa: “Harapan semua itu bisa akan terjadi sesuai dengan keinginan kita sendiri ataupun jauh berbeda dari apa yang kita inginkan. Kalau memang gagal, itu hanyalah sebuah harapan. Luka yang timbul itu menurutku bukanlah luka yang selamanya kita pendam. Luka itu akan hilang dengan sendirinya seiring dengan apa yang kita lakukan di kemudian hari untuk bangkit dari keterpurukan.”

Aku: “Terimakasih. Kata-katanya menyejukkan.”

Seolah-olah mengerti aku sedang berada di posisi mana dan apa yang tengah ku rasa, ia kembali membalas percakapan dengan sebuah cerita hidup seseorang

Yong Hwa: “Ada sebuah cerita hidup. Dia merupakan seorang atlit yang memiliki harapan tinggi di pundaknya untuk membela tanah airnya. Suatu ketika beban terberat diembannya untuk memperoleh medali emas. Setiap hari ia berlatih dan berlatih, terus berlatih. Dikalangan sejawatnya, dialah yang terkuat. Tapi suatu hari dimana besok dia harus berlaga, dia kembali berlatih lagi, namun dia mengalami patah kaki karena suatu insiden kecil terjadi. Dimana itu dilakukan oleh juniornya sendiri. Dia pun di putuskan untuk tidak dapat bertanding. Apakah saat itu ia kehilangan arah dan tujuan? Jawabannya, Ya! Diapun tidak terima dengan apa yang menimpanya. Namun seiring berjalannya waktu, sisa semangat yang ada pada dirinya membuatnya kembali bangkit. Dan saat ini dia telah menjadi seorang pelatih yang sukses. Harapan untuk menang yang digantungkan pada dirinya dulu, kini ia gantungkan pada muridnya.”

Terimakasih telah bercerita panjang lebar, aku terharu. Kemudia percakapan terus berlangsung

Aku: “Kalau begitu, bolehkah aku kembali menggantungkan harapanku kepada waktu untuk menyembuhkan luka-luka yang belum berhenti menderu?”

Yong Hwa: “Tak masalah. Itu merupakan tahap dimana kamu bangkit dari kegagalan yang sebelumnya kamu rasa itu gagal.”

Aku: “Aku memang gagal. Kalau saja asa tidak menjelma menjadi cita-cita dan niatku masih berada pada posisi semula, aku tidak menganggap aku gagal. Doakan waktu bisa berpacu menyembuhkan luka. Dan aku kembali bangkit tak peduli seberapa sering aku terjatuh.”

Yong Hwa:”Semangat! Semua akan indah pada waktunya. Semoga saja.”

Kemudian aku tersadar, rahangku seperti ditepuk untuk membangunkan aku dari mimpi buruk

Aku: “Aku nyaris lupa pada kata-kata penyemangat yang ku tanam sejak dulu: Semua Akan Indah Pada Waktunya. Terimakasih telah mengingatkan. Terimaksih pula semangat dan doanya.”

Yong Hwa: “Ya! Aku ada saat kau membutuhkanku.”

Sungguh, aku tidak menganggapmu sedang menggombal. Pada kenyataannya kau akan ada kala aku minta, walau itu sering hanya terbatas  melalui kata-kata tanpa  bertatap muka.

Aku: “Datanglah kepadaku bila kamu membutuhkanku. Akan ku bantu semampuku.”

Sungguh, aku juga tidak sedang menggombal. Aku tidak ingin diantara kita menjadikan salah satunya hanya sebagai tissue. Ada hanya ketika ingin menghapus air mata.

 

Terimakasih kesediaannya menanggapi semua ceritaku. Perlahan, semangatku kembali tumbuh satu-satu.

Terimakasih telah menjawab semua yang tadinya bagiku masih menjadi tanya tanpa harus kau tanya aku sedang kenapa.

 

 

*Percakapan diatas adalah percakapan melalui sms dengan teman yang saya samarkan namanya menjadi Yong Hwa. Oh ya, sebagian isi percakapan ada yang sedikit mengalami perubahan agar susunan katanya terlihat lebih rapi dan baik.

Surat Cinta (Mungkin Saja) Untuk Kamu

Standar

Kepada seorang cucu Adam, entah dimana berada…
Semoga hari-harimu menyenangkan dan selalu dalam berkah dan petunjuk-Nya..

Apa aku konyol menuliskan surat untuk seorang yang bahkan aku tak tahu dia siapa apalagi alamatnya
Ah, toh ada tukang @PosCinta yang senang hati mengantarkan suratnya entah dimanapun ia berada
Apa daya, aku bukan Tuhan Yang Maha Tahu dan bukankah jodoh adalah rahasia Allah?
Pacar atau tunangan kalian sekalipun belum tentu jodoh kalian, ya kan?
Yang masih menyelami lautan rumah tangga pun belum tentu jodohnya panjang, ya kan?
Jodoh layaknya umur, bisa panjang, bisa pendek. Begitu kata ibuku suatu hari
Baiklah, aku akan lanjut menuliskan ini untuk siapapun yang ditakdirkan menjadi pendamping hidupku nanti
Bila suatu hari aku menikah dan tulisan di blog ini masih ada, akan ku tunjukkan ini pada dia yang mendampingiku..

Tak usah kau tanya apa yang ada di benakku
Pastilah beribu pertanyaan yang sampai sekarang sulit atau belum terjawab
Kau siapa?
Kau dimana?
Kapan kita bertemu?
Atau kita sudah bertemu?
Dimana?
Di lampu merah? Di parkiran? Di sekolah? Atau bahkan waktu berpapasan di pusat perbelanjaan?
Sungguh, aku tak punya kekuatan untuk melihat masa depan
Bukankah manusia memang selalu punya keterbatasan?
Dibatasai oleh Tuhan agar tidak melampaui batas
Toh yang dibatasi saja masih suka kelewat batas
Kalender wakil rakyat, misalnya
1,3 Milyar, Sayang!
Aku berpikir? Kalender seharga itu apa bisa menunjukkan tanggal kiamat Qubra?
Sayang, menurutmu itu berlebihan, bukan?
Kalau kau baca ini, saat aku menuliskan ini memang heboh dengan kehebohan yang entah sengaja dibuat atau tidak
Bayangkan, Sayang!
Kursi sebuah harganya 24 juta!
Toilet tadinya mau 20 Milyar!
Kalender seharga 1,3 milyar!
Pengharum ruangan berkisar 1,6 Milyar!
Bukan main Negara kita ini, Sayang!
Apa mungkin para wakil rakyat ini ingin agar Sumber Daya Alam yang berlimpah ruah di Negara kita berbanding lurus dengan fasilitas yang juga wah di gedung DPR?
Apakah mereka pernah berpikir, sudahkah status Negara kita yang ngakunya Negara berkembang juga pengangguran yang tak sedikit jumlahnya berbanding lurus dengan passion mereka?
Maaf, Sayang! Suratku jadi sedikit menyimpang
Ini bukan pernyataan
Itu hanya sebagian kecil pertanyaanku
Semoga suatu hari bila kau membaca surat ini aku segera mendapat pencerahan darimu tentang pertanyaan diatas

Sayang, kau sedang apa?
Kau tidak sedang memeluk orang lain, kan?
kau tidak mencium kening seseorang kan sebelum berangkat kerja?

Entahlah..
Siapapun kamu
Bila kamu memang di takdirkan untukku, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu
Ada banyak kisah dan mimpi yang ingin ku bagikan kepadamu
Akan ku masakkan masakan kesukaanmu
Tapi tunggu dulu, tidak disini
Enak saja!
Berjanji dulu kalu kau segera datang
Aku setia dalam menunggu dan mendampingimu, insya Allah
Aku tidak gombal atau sedang menjanjikan kesetiaan, Sayang
Kalau burung elang laut saja setia pada pasangannya, kenapa kita yang manusia tidak?

Salam sayang kepada siapapun kamu yang menjadi jodohku
Semoga kita sama-sama diberkahi Allah dan menjadi hamba-Nya yang beruntung

Aku,
Yang semoga satu-satunya tulang rusukmu yang hilang satu

#30HariMenulisSuratCinta

Mencintaimu Apa Adanya

Standar

Dear The Dearest Selebtwit…

Pada suatu hari (ah, terlalu klise)

Pada waktu itu (apakah masih klise?)

Waktu pertama kali kami bertemu

Tidak! Hanya aku yang bertemu

Menemukannya di timeline, tepatnya

Aku jatuh cinta

Pada setiap kata-kata yang lahir dari pikirannya

Sebagian orang bilang itu hanya kata

Bagiku itu adalah makna

Aku banyak belajar darinya

Aku tak percaya jatuh cinta pada pandangan pertama

Tapi aku  bisa jatuh cinta pada kata-kata

Pada kata-kata yang aku tak tahu siapa empunya

Aku bahkan tak tahu dia siapa

Jangankan rupa, nama ia sebenarnya saja masih tanda tanya

Kemudian perlahan aku tahu ia yang menulis Surat Cinta yang Ganjil dan Buku Kecil

Ia seorang  yang teguh pendirian

Mengajarkan banyak orang untuk menulis dalam bahasa Indonesia yang benar

Tapi ia unik

Ia mencintai huruf kecil

Katanya, huruf besar itu terlihat angkuh

Dari sana, aku kagum dengan cara berpikirnya

Aku menemukan sisi indah dari kata-kata. Ialah menikmatinya, bukan sekadar membaca. Ialah dari hati bukan sekadar ilusi

Aku adalah satu dari masih tak sedikit yang gagap teknologi

Tapi kemudian karena dia, aku membuat sebuah blog

Hingga saat ini, aku ingin terus berkarya di dalamnya, sebagian besar karenanya

Terimakasih, Kakak

Aku tidak ingin terlalu berlebihan memuji, mengagumi, menyukai, dan mencintai

Karena aku selalu takut, yang berlebihan itu tak sebanding dengan yang diraih

Maafkan aku yang tak mengubah semua dalam tulisanku menjadi huruf kecil

Aku mencintaimu sebagai selebtwit apa adanya

Dan aku hanya ingin menjadi diriku yang sebenarnya

Tak mengubah satu atau dua diantara kita menjadi siapa-siapa

Wahai @poscinta, sampaikan suratku kepadanya: M. Aan Mansyur, @hurufkecil

Sincerely,

Yang masih haus kata-kata

@Carnation92

 

 

#30HariMenulisSuratCinta

Satu Iman Beda Imam (Mazhab)

Standar

Aku duduk tersandar, bertumpu pada dinding

Dinding yang selama ini menjadi saksi bisu pada semua keluh kesah, tawa, bahagia, ataupun duka yang tak ingin ku bagikan kepada siapa-siapa

Aku menatap kosong kedepan

Bibirku terkatup, rapat

Aku diam memendam semua rasa didalam dada

Mengubur setiap asa yang nyaris terjamah

@@@

“Satria, dengarkan aku baik-baik!” katamu di sudut gagang telepon rumahmu

Aku mengangguk

“Sudah lama sekali ada yang ingin ku sampaikan padamu..”

Kenapa kau harus mengatur nafasmu sedimikian rupa hanya untuk menyampaikan sesuatu? Ah, paling-paling kau meminta ijin untuk berziarah ke makam kakek moyangmu, kan?

Ya, kau masih milik ayahmu, aku tak kuasa apa-apa.

“Bicaralah!” kataku dengan suara seringan mungkin. Aku tidak sedang berada di ruangan sidang skripsi, kan? Kenapa rotasi bumi sepertinya macet? Gelisahku

“Aku…  kamu selama ini terlalu baik kepadaku. Aku, aku.. sangat berterimakasih akan hal itu. Kamu… banyak mengajarkan hal kepadaku, kamu juga menjadikan perbedaan terasa indah. Rasanya tak adil di dunia ini bila hanya di isi dengan manusia saja, atau tumbuhan saja. iya, kan? Seperti yang sering kau bilang. Terimakasih juga karena….”

“Langsung pada intinya, Rena!” selaku

Jantungku terasa berdegup tidak sewajarnya

Paru-paruku seakan dipenuhi cairan klorofom yang membuatku sebentar lagi tak sadarkan diri

Entah mengapa, aku merasa sangat takut

“Satria, bulan depan aku mau nikah!” katamu. Suaramu melemah

Kepalaku seperti disengat ribuan lebah

Tiba-tiba aku seperti terserang infark myocard

Sekian detik yang ku rasa, rotasi bumi seakan benar-benar rusak.

Aku tak kuasa ingin bergerak

“hahaha..” aku mencoba terkekeh untuk mencairkan suasana

“Sabar dulu, Sayang! Kan aku janji, tahun depan kita akan menikah. Aku lagi mengump..?”

“Bukan denganmu, Satria!”

“Ppppfftt..ttaa..taa.ttaapii….” jawabku terbata-bata. Ada butiran-butiran bening yang memanas dari kelopak mata yang tanpa diperintah dengan lancangnya keluar tanpa seijin tuannya

“Satria, maafkan aku!” sergahmu segera

“Kau tak punya cacat di mataku, dan ku yakin juga di mata Tuhan. Kau kekasih yang setia dan hamba-Nya yang taat. Tapi sadarkah, kau? Beberapa tahun terakhir ini kita tak dapat merayakan Idul Fitri pada hari yang sama. Kau bersikeras mengucapkan “Selamat Idul Fitri” kepadaku pada hari dimana aku menjalani ibadah puasaku di akhir Ramadhan. Kau bersikukuh untuk mengajakku makan siang padahal kau tahu aku sedang ibadah puasa sunah, puasa nisfu syakban. Kemudian kau selalu mengumpat kepada tukang-tukang warung yang tutup pada hari itu. Satria, kalau nasrani saja menghargai, mengapa kita yang sesama muslim tidak? Aku selalu sujud syahwi pada suatu subuh ketika kau menjadi imam shalatku, kau tak ber-qunut, sedang aku sebaliknya! Kau juga selalu mencibirku kalau aku sedang berziarah ke makam kakek moyangku, seorang pahlawan Islam di kota ini yang bahkan tinggal namanya saja masih dikenang orang. Apa itu salah? Satria, kenapa perbedaan itu tak lagi indah seperti yang pertama kali kau ajarkan?”

@@@

Aku tahu kita satu Tuhan

Kita satu keyakinan dalam satu hal

Tapi kita berbeda keyakinan dalam hal lain

Sama-sama mencintai Allah dan Muhammad-pun tak lantas membuat kau dan aku menjadi satu

Aku terima apapun keputusanmu. Berbahagialah dengan se-iman(m) Syafi’i-mu

Kemanapun kau lari

Dengan siapapun kau berhubungan

Bila kamu takdirku

Takkan lari kemana jua, Rena..

Bye…

*PS: dibuat untuk proyek sangat kecil bersama byeol92 dengan tema Cinta Beda Keyakinan ^^

Mantan Sayang (?)

Standar

Rindu? Kemudian aku berdialog di dalam hati,

 

 

“Apa yang membuat aku merindukanmu?”.

“Segala hal!” tiba-tiba pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya.

“Tidak!” bentakku lagi. “Untuk apa aku merindukannya? Ia tak pernah mengucap selamat ulang tahun untukku kalau saja facebook tak memberitahunya. Seperti hari ini. Hari ini ulang tahunku, 5 Januari, Sayang!”

“Oh, ayo lah.. bukankah laki-laki memang pelupa?” sahutnya lagi

“Hah? Skeptis!” bentakku. “Aku ini pelupa ulung, Sayang! Tapi aku selalu mengingatnya!”

“Oh, ayo lah.. jangan seperti anak kecil yang merajuk karena tidak diberikan hadiah!” Hati kecilku menyahut lagi

“Merajuk? Kau tahu? Aku bahkan tak pernah bisa marah waktu ia pergi begitu saja lalu kembali lagi, lalu pergi lagi! Aku tanya, kapan aku mengeluh? Pernah aku marah?”

“Baiklah…” kali ini ia menjawab lirih

“Kenapa? Kenapa kau mengalah? Apa aku benar?” Tantangku lagi

“Ya, kau benar! Ia mantan yang tak pantas kau rindukan!” Kali ini ia menjawab mantap

“Jangan pernah sebut dia sebagai mantan! Kami tidak pernah berpacaran!” Sahutku lebih mantap

“Ya, kau benar! Tapi bolehkan aku menyebutnya ‘mantan sayang’?” Suaranya melemah

“Kenapa?” aku menuntut jawabnya

“Kalau yang pernah berpacaran di sebut mantan pacar, salahkah bila aku menyebut kalian mantan sayang? Bukankah kalian memang pernah saling menyayangi hanya saja tembok persahabatan menjulang di antara kalian?” Ia menjelaskan

Aku diam sesaat…..

“Kau tak pernah mengerti bagaimana rasanya jadi aku!” dalihku terdengar mengada-ada

“Sayang, aku lah yang merasa sakit ketika air mata kau jatuhkan. Akulah yang sesak ketika rindu membuncah dan menjadi candu setiap malam sebelum tidurmu!” Kali ini jawabannya terlalu mantap, juga terlalu dalam

“Maafkan aku… Mencintainya kemarin itu sederhana, ternyata merindukannya-pun demikian adanya…” akuku

“Jangan menahan tangismu! Itu membuatku semakin sakit. Menangislah dan rindukan ia sebagaimana adanya. Aku tlah terbiasa menanggung sakit yang kau derita” Kali ini ia menjawab bukan lirih, tapi merintih

“Dan aku tlah terbiasa hidup tanpanya!” Kataku menguatkan aku, menguatkan hatiku

 

 

*P.S dibuat untuk #kangenmantanunite yang diadakan oleh kakak @hurufkecil di twitter land.