Monthly Archives: Februari 2012

Ansari Saleh, We Are Through. Yeah, It’s Over! :p>

Standar

Dear diary..
25 Februari 2012

Hmph, lucu juga kalau seandainya blog ini dijadikan diary pribadi, tapi kali ini saya benar-benar hanya ingin bercerita.

Hari ini, berakhir sudah saya (kami) magang di Rumah Sakit Umum Daerah Ansari Saleh (baca: Sarseh). Selama 3 minggu, waktu merangkak dari hari ke hari hingga akhirnya semua terlalui. Aku yakin, apapun masalahmu, seberat apapun itu pasti akan terlewati. Tapi kita tak tahu bagaimana kita melewatinya, ya kan?

Selalu ada kesan disetiap pertemuan. Dan sudah janji Tuhan disetiap pertemuan selalu ada perpisahan. Banyak hal yang aku pelajari dan aku dapati, mulai dari ilmu, sampai karakter orang-orang. Banyak juga hal-hal yang aku pelajari secara diam-diam. Hehe..

Oh ya, aku pengen mengabadikan nama teman-temanku yang satu tempat magang. Dimulai dari Kak Surya, lebih lengkapnya Surya Aditya. Cuma dia loh yang berjenis kelamin laki-laki diantara kami bersembilan. Paling cantik, deh… (eh? *ditoyor* haha.. ).Si penyuka kolang kaling ini partner saya selama magang 3 minggu. Barangkali karena abjad huruf awal nama kami berdekatan, makanya selalu satu depo. Berkat magang dengan beliau (ceileh tua banget kesannya, piiiss kakk) saya jadi sedikit mengerti tentang dunia persepakbolaan. Ya setidaknya mengerti, klub MU dan Juventus itu beda liga. Saya pikir mah sama aja, kan sama-sama bule. (Hahahaa.. *dikeplak*). Jadi lebih tahu juga tentang JKT48 dan AKB48. Barangkali beberapa tahun lagi bayang-bayang kami terwujud tentang BJM48 atau AKF48 (Hahaha.. ilmu apaan ini? *dipelototi dosen dosen*). Dan kami menggemari buah langsat dalam ukuran mini dan..dada ayam. Haha..

Nah, ada juga teman saya yang namanya Reysa. Hai Raisaaa.. (Eh, itu kan Raisa yang penyanyi. Mhihiii…) Teman saya yang satu ini nama lengkapnya Reysa Royani Nuramaliqa (bagus, bukan?) Hehee.. By the way, selama magang kami berdua pernah terbentur insiden kecil yang untungnya tidak sempat menyebabkan patah tulang dan gegar otak. Hahaa.. Bukan masalah magang kok, masalah pribadi. Tapi sudah baikan kok, tenang aja. (Ya kan, Rey? Hehe..)

Ada juga nih ya, temen saya yang namanya Nurianti. Tapi dia ngakunya sih nama sapaannya Lyra (Oke, terserah loe deh :p>), tapi kalo saya manggil dia sih biasanya simpel aja. KUDIS. Hehee.. piiss Diis, itu panggilan sayang kok *ngeles* haha.. nah, dia ini biasanya satu depo melulu dengan teman saya yang namanya Mariyatul Hasanah atau lebih akrab dipanggil Sanah, atau bisa juga Aya. Etapi bisa juga Atul. Alah, banyak amat nama panggilan lu yak? Hahaa.. Pis!

Ada juga Ijatul Yazidah. Teman saya yang satu ini sudah berumah tangga dan punya anak satu, loh. Kerja di Apotek juga dan punya bisnis online. Keren, yah? Hihii.. biasanya dia satu depo dengan seorang teman lagi yang namanya Fauziyah. Lebih tepatnya, Hj. Fauziyah. Ya, tahun lalu dia sudah mendapat kesempatan dari Allah untuk menunaikan ibadah wajib (bagi yang mampu)dari rukun islam kelima. :’) Beruntung sekali.. Aku kapan ya? Hiks.. Semoga aku dan kamu yang membaca ini juga punya kesempatan dan kemampuan untuk pergi kesana ya. Aamiiin.

Ada lagi nih, namanya Septia Rini Wulan Putri. Bagus amat orang tuanya ngasih nama. Tapi dia lebih akrab disapa dengan Septi. Kalo dia biasanya sering magang sendiri. Karena dia juga sambil kerja dan jam kerjanya sore, maka ketika kami ditugaskan untuk dinas sore di Rumah Sakit, dia meminta untuk dinas pagi walau sendiri. Hmph, salut deh..

Nah, yang terakhir yang saya kisahkan ini namanya Siti Imah. Lebih akrab disapa dengan (so)imah. Piiiss, Mahh.. jangan marah. Hehee.. Disini saya mau sedikit bercerita. Saya kami agak sedikit kurang lebih daripada HERAN sama sikap dia yang satu ini. Entah polos or something else lah, dia selalu mengenakan masker ketika datang ke tempat magang, selama magang, dan dalam perjalanan pulang menuju tempat parkiran. Hal ini berlangsung berapa hari ya? Kurang tau deh, ya pokoknya sempat jadi pertanyaan bagi sebagian kalangan. Nah, kalau di rumah dia pakek juga atau gak, saya mana tau lah itu, pokoknya gak pernah lepas sejauh mata memandang dari masker hijau di separuh wajahnya. Menurut seorang teman yang saya sembunyikan identitasnya (hahaaa..), cara mengenakan maskernya itu sudah profesional layaknya seorang dokter. Dan menurut investigasi kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit, dia mengidap sakit dibagian belakang yang menyebabkan panas sehingga salah satu cara mengatasinya adalah dengan mengenakan masker. (Teori macam apa ini?). Sedangkan menurut investigasi oleh seorang teman saya yang juga saya sembunyikan identitasnya (apalah gue ini), mengenakan masker karena debu (lebih masuk akal sih). Sedangkan menurut investigasi saya dia mengidap batuk atau flu gitu lah. Tapi batuknya muncul kalau ditanya aja. Misalnya gini: “Kenapa pAkek masker? Kamu batuk, Mah?” dia bakalan jawab iya sambil uhuk-uhuk. Ya begitu sih menurut pengamatan saya. Hehee.. Barangkali lebih tepatnya, dia pengen menjunjung tinggi kesehatan. Ya okelah. Terserah deh.. hehe.. Ini kenapa jadi membahas maskernya (so)imah panjang lebar sih, wid -______-“

Ya, kurang lebih begitulah yang bisa saya sampaikan. Untuk kisah para staf-stafnya, biar saya simpan dulu. Oh ya, yang agak sedikit bikin gugup adalah pas hari kemarin. Kami diuji lewat ujian tertulis. Jadi kami diberi semacam soal gitu sebanyak 5 pertanyaan. Untung soalnya masih sanggup kami telan bulat-bulat, tak kirain soal macam apaaa gitu.. Fiuuhh *mengelap keringat dan menghembuskan nafas*.
Hmph, sayangnya kami tak mengabadikan sosok kami bersembilan dalam bentuk foto. Mungkin karena kami orangnya “Just the way we are” kali yak. Apa adanya gitu, hehe.. *dikeplak segerombolan Sambang Lihum yang sering foto-foto* Cuma foto ini yang bisa saya kasih lihat. Tadinya foto ini mau saya tunjukkan ke teman-teman yang belum sempat lihat hadiah kenang-kenangan sebagai tanda terimakasih dari kami kepada pihak Rumah Sakit, tapi lupa *toyor self*.

Jam Kenangan

Ngomong-ngomong apa kabar ya teman-teman saya yang magang di RS Jiwa Sambang Lihum dan RSUD Ulin? Besok hari Minggu, ada pembekalan lagi sebelum magang di Puskesmas untuk hari senin nanti dan untuk kurang lebih 3 minggu kedepan. Jadi bakal ketemu dong, insya Allah. Hmph, pasti seru nih ceritanya. Saya tunggu. See you, Guys. Mmuuaahh.. Hahaa..

PS: Ini catatan di blog yang paling nyeleneh yang pertama kali saya buat. 😀

Iklan

Kepada Seseorang yang Rindunya Rinduku Rindukan

Standar

Kepada seorang yang aku rindu…

Kembali, aku memandang keluar jendela untuk memancing inspirasi
Setidaknya untuk memulai kata-kata
Seperti yang kau tahu, aku selalu sulit untuk memulai darimana aku harus bercerita bila aku sedang dirundung resah yang hanya kepadamu aku nyaman berbagi kisah. Hanya kepadamu
Seperti cerita kita, cerita antara aku dan kau
Darimana ia berawal?
Bagaimana kita bisa menjadi dekat?
Aku sulit menjelaskan

Kembali, aku membuka kotak memori di otakku yang barangkali berkarat
Yang didalamnya pasti sudah usang karena aku tipe orang yang susah mengingat
Aku punyak banyak kotak memori yang kecil yang ku kumpulkan dalam satu kotak memori yang besar
Kotak memori yang kecil itu ada yang kusam, ada yang nyaris ingin aku buang jauh-jauh
Kemudian aku temukan satu kotak memori
Warnanya merah hati
Yang tidak lagi terkunci
Engselnya rusak, gemboknya patah
Aku buka kotak memori berwarna merah hati itu
Kau tahu?
Isinya semua tentang kamu
Kata otakku, itu karena aku bodoh. Aku terlalu sering memaksakan jutaan tentang kamu aku kubur didalamnya
Aku menjejalmu menjadi satu tumpukan yang kotak memori merah hati tak sanggup untuk menguncinya
Hingga engselnya rusak, gemboknya patah
Karena terlalu banyak tentang kamu
Karena kamu sederhana, mencintai kamu itu sederhana
Maka hal-hal yang sederhana selalu mengingatkan aku padamu

Kau tahu?
Setiap malam sebelum tidurku, aku bertekad untuk tidak lagi mengingatmu, merindukanmu
Tapi besok hari, bahkan ketika pagi dimana aku berhenti di perempatan lampu merah, kamu bisa saja tiba-tiba muncul
Atau ketika dua insan saling bercengkrama di atas sepeda motornya masing-masing sambil menelusuri jalan, kamu selalu berlompatan di pikiranku. Jutaan tentang kamu keluar dari kotak memori merah hati. Mungkin itu penyebab lain mengapa kotak memori merah hati tak lagi bisa dikunci. Kamu terlalu sering muncul kemudian kupaksa tenggelamkan dan kupendam, hendak ku kubur dalam-dalam
Kini aku mengalah
Aku menyayangi jutaan saraf di otakku
Agar tidak rusak hanya karena jutaan kamu berkedut di dalamnya

Aku pamit permisi dari rumah pikiranku
Kembali, aku bertamu ke rumah hatiku
Ada banyak hal disana
Ada niat, ada asa, ada cinta, juga luka yang masih basah
Aku mengetuk pintu hatiku, yang hadir hanya niat, asa, dan luka basah
Aku mencari cinta, pintaku
Kemudian hatiku meminta aku membawa kamu agar cinta mau membuka diri
Kemudian aku berlari ke otakku, ke rumah pikiranku, membawa kotak memori berwarna merah hati untuk ku hadapkan kepada cinta
Kau bodoh! Kata hatiku kepadaku. Ia marah
Yang ia inginkan bukan masa lalu, bukan bayang-bayang tentang kamu
Cinta tak jua keluar, dan sekarang luka basah itu bernanah
Asa itu hancur berkeping-keping
Hatiku marah. Ia menutup pintunya
Tapi aku bisa apa?
Aku tak sanggup lagi mengajak kamu masuk ke kehidupanku
Kamu pergi, tak tahu apakah kembali lagi
Meski kamu datang sesekali, namun kamu tidak lagi membawa hati
Kamu tidak lagi seperti dulu

Aku rindu kamu
Tidak hanya ragamu
Rinduku rindu pada rindumu yang merindukanku
Rindu pada semua sikap, perhatian, dan cinta yang dulu kamu berikan namun aku abaikan

Ya, aku tahu, aku bodoh!

20 Tahun (yang Lalu) Kemudian

Standar

20 tahun yang lalu, barangkali kau baru bisa merangkak. Satu demi satu ke dalam peluk ibu yang kau dekap.
20 tahun yang lalu, barangkali aku-mataku masih basah pada dunia yang disaji dan dijanjikan Tuhan untukku jembatani ke kehidupan yang abadi.
20 tahun kemudian, siapa sangka, aku dan kau berteduh dalam satu atap jendela dunia, namun aku tetap aku, kamu pada jalanmu, kita masih sama-sama tak tahu.
20 tahun kemudian, siapa sangka, aku dan kau disatukan tanpa kesengajaan, meski hanya sejenak.
20 tahun kemudian, siapa sangka, kita duduk berdampingan, mata kita saling bertemu ketika kata atau lelucon menjadi sela-sela dipenatnya kewajiban dari dunia pendidikan. Kau lebih terbuka. Aku selalu saja lebih tertutup, pada sebagian kisah hidup.
Di matamu, aku tidak melihat cinta.
Di hatiku, lukaku masih basah, pada sisa-sisa kisah yang juga tak bisa ku bagikan kepada siapa-siapa, juga kamu.
Aku suka saat kau sebut aku dan kamu menjadi kita
Seolah-olah aku dan kamu adalah sahabat yang padahal 20 hari yang lalu kita masih tak tahu menahu.
Di matamu, aku tak melihat cinta saat kau sebutkan sebuah nama yang kau dan dia dasari sebuah cinta.
Aku yakin, cintamu padanya sama seperti kisah kau dan aku saat ini–tak bertahan lebih lama. Persahabatan kita takkan lama, barangkali akan menguap seiring waktu yang merangkak dari hari ke hari yang akhirnya berujung pada perpisahan, walau sejujurnya aku ingin kau dan aku lebih lama bahkan selama-lamanya menjadi kita, menjadi sahabat.
Namun keyakinanku pada hal itu kian meluntur, meluntur dan berubah rasa menjadi takut, lebih takut dari persahabatan kita yang akan tersudahi tanpa disadari, seperti halnya persahabatan yang kurasa tanpa pernah kau sadari akui.
Aku rela, sangat rela bila kau dan aku berakhir sampai disini, bila kita tidak lagi menjadi kita, bila kita sendiri-sendiri mengukir cerita tanpa cinta seperti Adam dan Hawa, asal kau tidak jauh, tidak terlalu jauh dari kekasih Nabi, Tuhanmu, Tuhanku, Tuhan kita, Tuhan semesta alam.
Aku ingin melihatmu mengumandangkan adzan,
Aku ingin melihat wajahmu basah dengan wudhu,
Aku ingin melihatmu merunduk, bersujud kepada Tuhan.
Aku ingin sekali melihatmu seperti itu, walau sekali ku lihat, hanya sekali agar hati ini tak lagi takut dan kembali yakin bahwa kita masih sama. Kita masih satu agama. 😥

Ketika Kita Menjadi Hanya Aku dan Aku Lainnya

Standar

Teruntuk teman-teman seperjuangku di bangku kuliah, @akfarisfi, Angkatan 2009..

Aku tulis serangkaian tulisan ini di malam hari, di waktu istirahat setelah perjalanan lumayan melelahkan dari Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan ke Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Dan sebaliknya.

Tapi tak apa. Lelah itu biasa. Yang penting aku (kami) bisa datang ke tempat tujuan dengan selamat dan melihat seorang teman karib kami berbahagia. Selamat menempuh hidup baru, Kawan. Aku amin kan untuk segala doa yang baik yang dipanjatkan untuk kalian. Aamiin.

Besok hari Senin. Ya, dunia juga tahu. Tapi besok hari terakhir aku mengenal yang namanya Ujian Akhir Semester. Senang? Ya, tapi ternyata tak sepenuhnya. Selasa, aku langsung magang di Rumah Sakit. Sudah pasti sangat jarang menginjakkan kaki di kampus kami yang apa adanya namun ada apa-apanya. Eh? Haha. Dan sudah pasti juga jarang bertemu teman-teman, bukan? Huhu.

Entah beribu entah lah. Kalau kemarin-kemarin aku meminta agar aku langsung dibangunkan di pagi hari Yudisium saja, tapi malam ini aku merasa ingin menikmati waktu lebih lama bersama mereka. aku merasa waktuku bersama teman-teman (kampus)-ku sudah semakin dekat dengan perpisahan. Waktu aku melihat temanku berbalut cantik dengan busana pengantin tadi, aku tiba-tiba merasa di lempar ke masa depan. Aku merasa kita tak lagi menjadi kita. Hanya ada aku, aku, dan aku lainnya dari masing-masing kita.

Magang di Rumah Sakit hanya mempertemukanku dengan sebagian teman-teman saja. Setelahnya magang di Puskesmas, itu apalagi. Hanya satu atau dua teman yang satu tempat magang. Meski setengah bulan setelah selesai magang di Puskesmas, kami akan Study Tour ke Jakarta-Bandung, tapi aku merasa itulah puncak sekaligus jurang kebersamaan kami. Setelahnya, masing-masing dari kami akan menjalani pilihan masing-masing. Ya kan? Kita akan disibukkan dengan kewajiban yang entah siapa yang membuat peraturan macam itu-tugas akhir alias Karya Tulis Ilmiah. Masing-masing dari kita sibuk observasi, sibuk nyari pembimbing, sibuk revisi, ya pokoknya sibuk sama urusan pribadi lah.

Aku bersusah payah membangun semangat selama kuliah. Tapi akhirnya Tuhan menghantarkanku pada titik sejauh sekarang aku berdiri. Sejauh perjuangan kalian juga. Sejauh waktu yang sama-sama kita tempuh.

Tinggal satu semester lagi, Kawan. Atas izin-Nya, kita akan dikumpulkan di sebuah acara. Acara yang merupakan muara akhir kita dari proses yang kita lalui sama-sama. Aku dan teman perempuan lainnya (barangkali) akan memakai kebaya dan high heels, dan yang laki-laki mengenakan stelan jas dan dasi.

Hmph, masih ingat waktu kita dikumpulkan dalam satu ruangan yang disebut aula? Waktu kita diperkenalkan dengan kampus baru kita. Waktu aku dan kalian masih asing, padahal duduk berhadapan atau saling menyentuh bahu. Waktu itu salah seorang dosen kita menjelaskan bahwa kita akan menaiki perahu, perahu perkuliahan. Sekarang kita sudah dekat lagi dengan dermaga, dermaga masa depan, pelabuhan untuk selanjutnya mencari jalan dan menjalani kehidupan masing-masing.

Selalu saja seperti ini, Kawan. Seperti cinta yang rentan sakit hati, seperti kehidupan yang menjanjikan kematian, maka seperti itulah pertemuan. Selalu satu paket dengan perpisahan. Lalu (si)apa yang harus disalahkan? Ah, sudahlah, aku tak mau mencari siapa atau apa yang salah, toh Tuhan yang mengatur. Dan aku tak berani menyalahkan Tuhan. Hehe..

Sayup-sayup di benakku muncul lirik lagu ini, “Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini..” Mungkin tulisan ini akan lebih ‘romantis’ kalau aku sampaikan pas kita sudah dapat title nanti. Tapi kembali lagi ke bait keempat pada tulisanku ini, “Entah beribu entah lah… Aku merasa waktuku bersama teman-teman (kampus)-ku sudah semakin dekat dengan perpisahan…”

P.S: Kalau tulisan ini dianggap berlebihan (lebay), maka anggap lagi saja aku sedang mabuk, Kawan. Haha.

#30HariMenulisSuratCinta