Monthly Archives: Maret 2012

Antara Bulan yang Menemaniku ke Samarinda, Kamu, dan Aku

Standar

Bulan tak terlihat sejauh aku memandang langit di separuh sisa malam yang hampir masuk subuh.
Ia bukan tertutup awan. Bukan!
Ia tertutup hutan di sepanjang jalan yang ku lalui sudah lebih dari dua belas jam waktu aku mengintip bulan dari sela-sela gorden yang menutupi kaca bus yang membawaku dari Banjarmasin ke Samarinda ini.
Aku menarik napas panjang dan mencoba memejamkan mata untuk mengolah mimpi menjadi bunga yang di dalamnya penuh kumbang yaitu kamu.
Tapi aku tak ma(mp)u.
Di sampingku, di bangku nomor 4 bus ini, yang jaraknya tidak lebih dari 75 sentimeter dari bangku nomor 5 yang ku duduki, seorang pria juga kesusahan untuk dapat terlelap.
Barangkali usianya 5 sampai 7 tahun lebih tua dari usiaku.
Tingginya mungkin 10 senti lebih tinggi dari tinggi badanku.
Ia berkumis, tapi tipis. Hidungnya mancung, dan aku suka melihat wajahnya dari samping.
Kalau tadi dia juga tak dapat terlelap, kali ini ia berusaha untuk meninggalkan batas antara dunia nyata dan dunia mimpi.
Ia berulangkali memutar badan untuk mencari posisi tidur yang lebih nyaman.
Mataku tak berhenti lepas memperhatikannya.
Semakin ku perhatikan, ia semakin memalingkan wajahnya ke arah jarum jam 9 dimana aku berada di arah jarum jam 3 dari posisinya.
Aku tersenyum kecil dan tingkahku semakin menjadi-jadi. Aku tak mau berhenti memandang dia yang barangkali hanya sekali ini aku bisa bertemu pada pria tampan yang tepat di sampingku.
Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru, nyaris semua penumpang sudah berada di alam mimpi, hanya supir bus, kenek bus, aku, dan dia yang masih terjaga.
Aku lelah sendiri dengan permainanku, seperti halnya aku yang lelah terus menunggu kamu.
Aku diam dan berhenti mengganggu dia dengan diam-diam. Tapi mataku tak jua dapat terpejam. Aku kembali menatap jalan di depan. Sementara di pelupuk mataku kamu terus bergantungan, dan di telingaku lagu kesukaanmu terus ku mainkan.
Aku selalu seperti ini, selalu kesusahan tidur bila sedang dalam perjalanan panjang dan lebih tertarik memperhatikan jalan di depan.
Dan aku selalu seperti ini, selalu kesusahan melupakanmu dan lebih asyik mengingat kenangan tentang kamu di hidupku.

Seperti halnya bulan yang bukan tertutup awan.
Aku juga bukan sedang jatuh cinta. Bukan!
Barangkali ini yang namanya hati tidak pernah tidak untuk tidak selingkuh.
Tapi aku tidak semudah itu jatuh cinta apalagi kepada orang yang aku tak tahu menahu dia siapa.
Aku hanya mudah tertarik pada pandangan pertama. Itu saja!
Tapi apa pedulimu?
Apa untungnya aku setia menunggumu yang tidak menjanjikan apa-apa?
Aku jatuh cintapun itu bukan urusanmu!
Itu hakku!
Aku merasa aku tak lagi berdosa bila aku jatuh cinta lagi karena kamu sudah terlampau jauh pergi.
Tapi hatiku seperti bulan sekarang ini, tinggal separuh.
Bila separuh bulan karena tertutup awan atau hutan, maka separuh hatiku tertutup kenangan dan penyesalan.
Aku tahu aku salah!
Mengabaikan hatimu hingga akhirnya patah.
Aku ingin kamu kembali, mengembalikan separuh hatiku ini.
Kemudian ku obati dan ku rawat hatimu agar tak lagi patah agar aku dapat kembali bertumpu kepadamu.
Kembali tersenyum dan tertawa lepas karena hanya kepadamu aku selalu merasa nyaman.
Tidak pada pria di sampingku, atau pria yang ku ceritakan padamu dulu itu.

Aku kembali menilik bulan dari jendela bus.
Tadi di sebelah kanan.
Namun sekarang di sebelah kiri.
Barangkali kita juga seperti ini.
Kamu di kiri,
Aku dikanan.
Kita berbeda prinsip dalam hal keyakinan.
Kamu pada jalanmu,
Aku pada jalanku.
Sepertinya bulan saja tak cukup mampu menerangi bumi, harus digantikan oleh matahari.
Begitu juga aku. Cinta saja tak cukup melandasi sebuah hubungan, aku menginginkan seorang imam.
Tapi inginku kita tetap menjadi teman
Dan perpisahan ini tidak demikian menyakitkan.

– Perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, Sabtu, 03 Maret 2012, 02.00 am.

Iklan