Monthly Archives: November 2012

Sampingan

Dear you..
“Kamu benar belum pernah jalan berdua sama cewek selain aku sebelumnya? Kenapa? Bukankah sebelumnya kamu pernah punya pacar?” – Adalah pertanyaan yang tidak sempat aku lontarkan kepadamu.

Hmph, tapi pasti enggak dong ya setelah ini? Karena aku tahu, di luar sana, banyak perempuan lain yang memperebutkan hatimu. Kamu yang rupawan, sederhana, cerdas, kreatif, tapi..suka agak aneh sih, hehe, tapi itu yang membuatmu berbeda. Sempat terlintas di benakku untuk bertarung meraih hatimu, tapi segera ku enyahkan, karena aku tahu, aku takkan pernah mampu memenangkannya.

Terima kasih. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Ketika aku sedang tidak punya siapa-siapa, ada kau yang bersedia, walau mungkin terpaksa. Maaf, sungguh maaf.

Karena aku juga, karena aku yang terlalu tenggelam dalam lautan kesedihan, telinga kita sampai tuli dari kumandang adzan. Maaf, sungguh, maafkan aku.
Terima kasih untuk beberapa jam itu. Dan maaf, sungguh maaf, membuatmu lalai kepada-Nya. Dengan apa harus ku tebus waktu ashar dan maghrib kita yang terlampau waktu itu? Maaf.. Aku pengecut, tak berani meminta maaf secara langsung.

Sincerely,
Hati yang penuh sesal

Surat Maaf yang Tak Tersampaikan

Iklan
Sampingan

Masih lekang di ingatan, sewaktu aku baru menyelesaikan UAN ketika SLTP (sekarang SMP). Ayahku membawa sebuah brosur penerimaan siswa baru di SMF ISFI Banjarmasin (sekarang SMK Farmasi ISFI Banjarmasin). Ia begitu semangat mendaftarkan diriku di sekolah yang…yaaa lumayan bergengsi kata banyak orang. Seperti ini bayangannya: kalaupun kamu menjadi orang paling bodoh di SMF itu, di luar sana, kamu tetap akan ‘dicap’ orang “wah hebat, pasti banyak hapalan, otaknya harus ‘encer’ kan?”. Nah, begitu kira-kira.
Dan hei, aku lulus! Dengan kerja keras sendiri, dan doa yang dikabulkan Tuhan. :’)
Singkat cerita, aku lulus dengan penuh perjuangan, lalu dilanda badai galau nan hebat tak terkira: Lanjut sekolah atau bekerja?
Mamaku adalah seorang yang…ya bisa dibilang pikirannya mungkin ‘primitif’ atau apalah itu. Coba saja kamu bayangkan sendiri, aku disuruh sekolah hingga Apoteker but hei, aku gak boleh keluar dari Banjarmasin! What a pitty ya gue? Huks!
Okedeh, aku singkat lagi ceritanya.
Setelah berhasil mendapat pekerjaan, ortu ‘maksa’ aku untuk kuliah di tempat satu yayasan dengan SMF dulu: AKFAR ISFI Banjarmasin. Baru buka dan well, aku adalah mahasiswa angkatan pertama.
Begitu panjang lika-liku kehidupan yang ditempuh. Ada suka, banyak susahnya. Rambut tambah rontok plus tumbuh uban (untung mata gak sampai minus/plus). Pokoknya, yaaa perjuangan banget deh sekolah di farmasi.
6 tahun menekuni ilmu. Berapa banyak uang yang dikeluarkan, dan sekarang, yang aku sesalkan adalah: keringat orangtua yang mencari uang demi sekolah, waktu yang tersita, tubuh yang dipenjara ulangan, ujian, KTI dan semacamnya sampai sekarang belum terbayar.
Aku bukannya tidak bersyukur. Tapi, perjuangan selama ini tidak sebanding dengan hasilnya. Kalau lagu armada bilang begini: “Mau dibawa ke mana hubungan kitaaaa~” kalau aku sih: “Mau dibawa ke mana ijazah kitaaaa~”
Yup, ijazah pada akhirnya hanya menjadi seonggok yang tidak bernyawa yang tersimpan rapat dalam lemari, terbungkus rapi di balik plastik laminating.
Aku bisa apa dengan ijazah itu? Menunggu PNS? Ya ampun, paling enggak nunggu setahun sekali, itupun kalau lulus. But hey, cita-citaku bukan menjadi seorang PNS! Lalu, harus aku apakan ijazah itu?
Aku hanya kesal, sampai sekarang masih belum bisa menebus perjuanganku belajar dan membayar keringat orangtua.
Tapi, satu hal, aku tidak pernah menyesal mengenal dunia farmasi. Karena bila menyebut nama farmasi, namaku serasa terpanggil.

Unek-Unek Seputar Farmasi

Sampingan

“Mungkin saja besok hari hanya namaku yang tinggal, tolong jangan kubur aku dengan rasa sesal.” Sebuah pesan pendek dikirimkan Luna kepada Rio. Semburat cahaya lampu neon berdaya 25 watt memantul ke permukaan silet. Kini, jarak kematian hanyalah sebuah iman di hati Luna.

“Cih! Makan sesalmu! Aku telah anggap masa lalu kita adalah sampah!” Balas Rio.

“Cintamu adalah hidupku. Bila itu tak lagi ada, maka jantungku berhenti berdetak. Membunuh ayahmu adalah di luar kuasaku seperti ayahmu yang di luar kuasanya ingin merampas kehormatanku.”

Kini, sebuah silet terlanjur mengubah paksa takdir, memutus nadi kehidupan, menggoreskan kematian, menyisakan luka dan hati yang penuh darah.
Di seberang sana, dada Rio terasa nyeri, sakit, lebih sakit daripada terhempas ke batu karang bertubi-tubi sewaktu menyelamatkan Luna dari kejaran ayah Rio di pantai yang mengidap Schizoprenia.

-SELESAI-

*aduuuuhh.. Maaf ceritanya jelek, nulis paksa nih, lewat hape pula. >,<

Luna