Monthly Archives: April 2013

Aku Tidak Bisa Mencintai Dia Biasa-Biasa Saja

Standar

“Cintailah seadanya”, kata pepatah bijak suatu hari.
Tapi aku tidak bisa berpura-pura mencintai dia seadanya saja.
Aku tidak bisa berbohong bahwa mencintai dia itu biasa-biasa saja.
Sekalipun ia jarang memberi perhatian, aku selalu sabar untuk ia yang selalu besar di dalam hati kecil ini.

Mataku tak selalu melihatnya, telingaku tak selalu mendengar suaranya dan lenganku belum sanggup memeluknya, maka caraku menjaganya ialah melalui do’a, layaknya bulan yang menjaga malam untuk tetap terang.

Cintaku tidak buta, meski aku jarang mendapat perhatian darinya, aku tidak butuh perhatian dari hati yang lain. Semoga dengan caraku menjaga hatiku sepenuhnya untuknya, ia juga menjaga hatinya untukku. Karena aku percaya, bila kita menanam kebaikan, kita juga akan menuai kebaikan, dan berlaku sebaliknya.

Aku bersyukur dipertemukan dengannya dan bersyukur atas rasa cinta yang Allah tanam di hati ini. Ia bahagiaku dan aku bahagia memperjuangkannya. Pasrah kepada Allah dan berharap ridha-Nya, begitulah caraku mencintainya.

Sekali lagi, aku tidak bisa mencintai dia biasa-biasa saja.

Iklan

Setengah Lusin Wejangan dari Kakak

Standar

21 tahun hidup bersamanya, aku adalah satu-satunya adik perempuannya yang hidup berdampingan dengannya.
Dulu ketika aku kecil, ia yang mengajariku bersepeda, hingga beranjak remaja ia juga yang ikut mengajariku bagaimana caranya mengendarai sepeda motor.
Pernah suatu ketika, aku ditabrak lari dan jatuh dari sepeda motor, waktu itu ia yang panik dan ingin mengejar si pelaku, tapi aku yang mencegahnya.
Pernah juga suatu hari, kala aku ingin berangkat kerja, waktu itu sedang terjadi kebakaran di dekat rumah, ia melarangku untuk berangkat, katanya jangan dulu menyebrang, tunggu sampai semua rombongan pemadam kebakaran itu berlalu, bahaya kalau sampai aku ditabrak, namun ia tahu aku tipe orang yang keras kepala dan akhirnya ia yang dengan ringan hati mengantarkanku menyebrang jalan.
Kadang, ia juga begitu menyebalkan.
Dulu ia sering mengejekku karena waktu sekolah aku tidak pernah punya pacar, hingga akhirnya ia berhenti mengejekku setelah aku tahu ia membaca isi sms-ku secara diam-diam, ada seseorang yang menyatakan cintanya kepadaku melalui sms tersebut.

Dan inilah setengah lusin wejangan dari dia ketika aku mulai beranjak dewasa:
1. “Wid, cari pacar itu benar-benar! Ingat, nikah itu sekali aja seumur hidup.”
2. “Wid, kalau mampir ke rumah teman (laki-laki), kalau dikasih air minum, jangan diminum! Barusan dapat info, ada cewek yang dibius dari minuman lalu ditiduri.”
3. “Kalau nanti ada (laki-laki) yang berani mukulin kamu, jarinya yang aku potong-potong!”
4. “Wid, kalau pacaran, jangan terlalu dalam! Selama belum ada ijab qabul, pokoknya jangan!”
5. “Aku ini laki-laki. Sepolos-polosnya laki-laki, sekalipun ia tak pernah pacaran, mau dia berpendidikan atau tidak, aku tahu sepenuhnya sifat laki-laki. Pokoknya, hati-hati!”
6. “Wid, kamu itu adikku. Wajar kalau aku khawatir.”

Terima kasih, Bang :’)

Ternyata Belajar Mencintai Jauh Lebih Sulit daripada Belajar Memaafkan

Standar

Ada yang bilang, cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.
Ada juga yang bilang, cinta dapat tumbuh dan berkembang dari perhatian-perhatian.
Ada lagi yang bilang, lebih baik dicintai daripada mencintai.

Tapi, pernah tidak merasakan bahwa belajar mencintai ternyata jauh lebih sulit daripada belajar memaafkan kesalahan orang lain?

Aku pikir, dicintai tanpa balas mencintai sama menyedihkannya dengan kita yang mencintai tapi tidak mendapat balasan dicintai.

Andai aku kuasa, aku akan memilih membalas cintanya, hingga aku tak perlu lagi menunggu-nunggu cinta yang lain.

Tapi aku tidak bisa.
Sekalipun aku sendiri, sekalipun tidak ada siapa-siapa yang menemani, sekalipun hatiku hampa, sekalipun aku dihujani dengan berjuta perhatian darinya, tetap saja ruang hati ini menolak untuk diisi oleh hati yang memang bukan pemiliknya.

Dulu aku pikir, lebih baik dicintai daripada mencintai.
Namun ternyata keindahan cinta itu terletak pada dua yang sama-sama saling mengisi.

Ternyata benar, belajar mencintai jauh lebih sulit daripada belajar memaafkan sebuah kesalahan yang fatal sekalipun.
Ternyata cinta yang baik, meski ruang hatinya kosong, akan menempatkan dirinya pada tempat yang semestinya.

Jadi, ini yang namanya, cinta tidak dapat dipaksakan?