Monthly Archives: Agustus 2013

Tentang Sunyi, Hilang dan Cinta yang Datang

Standar

Gema takbir telah ramai dikumandangkan selepas maghrib tadi. Mataku tak lepas memperhatikan jalanan melalui kaca tembus pandang dari kantor tempat ku bekerja.
Sesekali ku putar lagu kesukaanku untuk membuang rasa sunyi.
Sementara sedari tadi, blackberry-ku tidak sepi dari bunyi, ada saja broadcast yang masuk dari teman-teman di kontak untuk sekadar mengucapkan selamat Idul Fitri dan memohon maaf.

Tidak peduli mereka latah mengucapkan maaf atau benar-benar tulus meminta maaf, hanya di hari ini, orang-orang ramai meminta maaf. Sungguh, betapa indahnya Idul Fitri.

Beberapa saat yang lalu aku membuat beberapa postingan di akun twitter pribadiku, yang menggambarkan betapa sedihnya aku tidak dapat berkumpul dengan sanak saudara seperti kebanyakan orang di malam Idul Fitri.
Tidak lama kemudian, hatiku terenyuh dan malu pada diri sendiri, ada yang lebih besar pengorbanannya daripada aku.
Saat pulang bekerja menyusuri jalan, aku menyaksikan para polisi yang siaga mengatur jalanan yang menjadi ruwet pada malam ini. Atau satpam di komplek rumahku, yang bahkan untuk shalat Ied besok saja mereka tak bisa menunaikan karena harus tetap bertugas. Atau mungkin tukang sampah di komplek rumahku, saat orang ramai bermain kembang api, menyantap hidangan lebaran dan bercengkrama dengan keluarga, beliau masih setia mengais sampah.

Di sudut hati yang lain, aku meringis, ini kali pertama berlebaran tanpa abah. Masih jelas di ingatan, sejak 2 kali lebaran yang lalu, beliau tak mampu menikmati puasa dan Idul Fitri dalam kondisi dan suasana yang sempurna. Sementara lebaran kali ini, Allah telah menjemputnya, kini ia telah tiada. Sudahlah, aku tidak mau mengundang air mata.

Di sudut hati yang lainnya, ada yang tumbuh dan kian besar di hati yang kecil ini. Bibitnya ditanam oleh Tuhan, lalu berakar di hati. Kemudian tumbuh dan mekar menjadi bunga yang harumnya mampu menepis dan menipiskan kesedihan, yang warnanya mampu lebih indah dari pelangi menghiasi hati ini.
Terima kasih untukmu, yang selalu menjadi semangat dan kuatku hingga saat ini.

Takbir terus berkumandang. Semoga pintu maaf juga terus terbuka, hari ini, besok dan hingga kapanpun tidak peduli hari biasa atau hari raya agar pada hari akhir nanti semua berlapang dada. Aamiin.
Selamat Idul Fitri 1434 H. Mohon maaf lahir dan batin.
Widya, sekeluarga.

Iklan