Category Archives: Pena Bunga

Aku Tidak Bisa Mencintai Dia Biasa-Biasa Saja

Standar

“Cintailah seadanya”, kata pepatah bijak suatu hari.
Tapi aku tidak bisa berpura-pura mencintai dia seadanya saja.
Aku tidak bisa berbohong bahwa mencintai dia itu biasa-biasa saja.
Sekalipun ia jarang memberi perhatian, aku selalu sabar untuk ia yang selalu besar di dalam hati kecil ini.

Mataku tak selalu melihatnya, telingaku tak selalu mendengar suaranya dan lenganku belum sanggup memeluknya, maka caraku menjaganya ialah melalui do’a, layaknya bulan yang menjaga malam untuk tetap terang.

Cintaku tidak buta, meski aku jarang mendapat perhatian darinya, aku tidak butuh perhatian dari hati yang lain. Semoga dengan caraku menjaga hatiku sepenuhnya untuknya, ia juga menjaga hatinya untukku. Karena aku percaya, bila kita menanam kebaikan, kita juga akan menuai kebaikan, dan berlaku sebaliknya.

Aku bersyukur dipertemukan dengannya dan bersyukur atas rasa cinta yang Allah tanam di hati ini. Ia bahagiaku dan aku bahagia memperjuangkannya. Pasrah kepada Allah dan berharap ridha-Nya, begitulah caraku mencintainya.

Sekali lagi, aku tidak bisa mencintai dia biasa-biasa saja.

(Masih) Halaman Rindu

Standar

Rindu tidak hanya soal kamu

Aku bisa saja memaksa kamu datang untuk menemui aku, kemudian kita bertemu

Tapi rindu tidak hanya sampai di situ

Rindu itu…

Pada semua yang ada pada dirimu

Yang hilang satu per satu dan kini semua abu-abu

Kamu samar, cintamu samar-samar, hadirmu samar-samar hingga akhirnya terbang bebas, benar-benar bebas hingga aku tak dapat lagi menggapaimu.

Halaman Rindu

Standar

Halaman itu bernama rindu, ketika kamu tak kunjung datang saat ku tunggu-tunggu.

Halaman itu bernama kenangan, ketika kau memutuskan untuk pergi dan tak pulang-pulang.

Kini halaman itu menjadi buku. Tebal, berisi rindu dan kenangan.

Kini hati ini menjadi batu. Kebal, terhadap kamu dan pesakitan.

Karena proposal, mataku telah terbiasa tidur terlalu larut malam.

Karena kau tinggal, hatiku telah terbiasa tanpa kamu dan perhatian.

20 Tahun (yang Lalu) Kemudian

Standar

20 tahun yang lalu, barangkali kau baru bisa merangkak. Satu demi satu ke dalam peluk ibu yang kau dekap.
20 tahun yang lalu, barangkali aku-mataku masih basah pada dunia yang disaji dan dijanjikan Tuhan untukku jembatani ke kehidupan yang abadi.
20 tahun kemudian, siapa sangka, aku dan kau berteduh dalam satu atap jendela dunia, namun aku tetap aku, kamu pada jalanmu, kita masih sama-sama tak tahu.
20 tahun kemudian, siapa sangka, aku dan kau disatukan tanpa kesengajaan, meski hanya sejenak.
20 tahun kemudian, siapa sangka, kita duduk berdampingan, mata kita saling bertemu ketika kata atau lelucon menjadi sela-sela dipenatnya kewajiban dari dunia pendidikan. Kau lebih terbuka. Aku selalu saja lebih tertutup, pada sebagian kisah hidup.
Di matamu, aku tidak melihat cinta.
Di hatiku, lukaku masih basah, pada sisa-sisa kisah yang juga tak bisa ku bagikan kepada siapa-siapa, juga kamu.
Aku suka saat kau sebut aku dan kamu menjadi kita
Seolah-olah aku dan kamu adalah sahabat yang padahal 20 hari yang lalu kita masih tak tahu menahu.
Di matamu, aku tak melihat cinta saat kau sebutkan sebuah nama yang kau dan dia dasari sebuah cinta.
Aku yakin, cintamu padanya sama seperti kisah kau dan aku saat ini–tak bertahan lebih lama. Persahabatan kita takkan lama, barangkali akan menguap seiring waktu yang merangkak dari hari ke hari yang akhirnya berujung pada perpisahan, walau sejujurnya aku ingin kau dan aku lebih lama bahkan selama-lamanya menjadi kita, menjadi sahabat.
Namun keyakinanku pada hal itu kian meluntur, meluntur dan berubah rasa menjadi takut, lebih takut dari persahabatan kita yang akan tersudahi tanpa disadari, seperti halnya persahabatan yang kurasa tanpa pernah kau sadari akui.
Aku rela, sangat rela bila kau dan aku berakhir sampai disini, bila kita tidak lagi menjadi kita, bila kita sendiri-sendiri mengukir cerita tanpa cinta seperti Adam dan Hawa, asal kau tidak jauh, tidak terlalu jauh dari kekasih Nabi, Tuhanmu, Tuhanku, Tuhan kita, Tuhan semesta alam.
Aku ingin melihatmu mengumandangkan adzan,
Aku ingin melihat wajahmu basah dengan wudhu,
Aku ingin melihatmu merunduk, bersujud kepada Tuhan.
Aku ingin sekali melihatmu seperti itu, walau sekali ku lihat, hanya sekali agar hati ini tak lagi takut dan kembali yakin bahwa kita masih sama. Kita masih satu agama. 😥

Ketika Kita Menjadi Hanya Aku dan Aku Lainnya

Standar

Teruntuk teman-teman seperjuangku di bangku kuliah, @akfarisfi, Angkatan 2009..

Aku tulis serangkaian tulisan ini di malam hari, di waktu istirahat setelah perjalanan lumayan melelahkan dari Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan ke Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Dan sebaliknya.

Tapi tak apa. Lelah itu biasa. Yang penting aku (kami) bisa datang ke tempat tujuan dengan selamat dan melihat seorang teman karib kami berbahagia. Selamat menempuh hidup baru, Kawan. Aku amin kan untuk segala doa yang baik yang dipanjatkan untuk kalian. Aamiin.

Besok hari Senin. Ya, dunia juga tahu. Tapi besok hari terakhir aku mengenal yang namanya Ujian Akhir Semester. Senang? Ya, tapi ternyata tak sepenuhnya. Selasa, aku langsung magang di Rumah Sakit. Sudah pasti sangat jarang menginjakkan kaki di kampus kami yang apa adanya namun ada apa-apanya. Eh? Haha. Dan sudah pasti juga jarang bertemu teman-teman, bukan? Huhu.

Entah beribu entah lah. Kalau kemarin-kemarin aku meminta agar aku langsung dibangunkan di pagi hari Yudisium saja, tapi malam ini aku merasa ingin menikmati waktu lebih lama bersama mereka. aku merasa waktuku bersama teman-teman (kampus)-ku sudah semakin dekat dengan perpisahan. Waktu aku melihat temanku berbalut cantik dengan busana pengantin tadi, aku tiba-tiba merasa di lempar ke masa depan. Aku merasa kita tak lagi menjadi kita. Hanya ada aku, aku, dan aku lainnya dari masing-masing kita.

Magang di Rumah Sakit hanya mempertemukanku dengan sebagian teman-teman saja. Setelahnya magang di Puskesmas, itu apalagi. Hanya satu atau dua teman yang satu tempat magang. Meski setengah bulan setelah selesai magang di Puskesmas, kami akan Study Tour ke Jakarta-Bandung, tapi aku merasa itulah puncak sekaligus jurang kebersamaan kami. Setelahnya, masing-masing dari kami akan menjalani pilihan masing-masing. Ya kan? Kita akan disibukkan dengan kewajiban yang entah siapa yang membuat peraturan macam itu-tugas akhir alias Karya Tulis Ilmiah. Masing-masing dari kita sibuk observasi, sibuk nyari pembimbing, sibuk revisi, ya pokoknya sibuk sama urusan pribadi lah.

Aku bersusah payah membangun semangat selama kuliah. Tapi akhirnya Tuhan menghantarkanku pada titik sejauh sekarang aku berdiri. Sejauh perjuangan kalian juga. Sejauh waktu yang sama-sama kita tempuh.

Tinggal satu semester lagi, Kawan. Atas izin-Nya, kita akan dikumpulkan di sebuah acara. Acara yang merupakan muara akhir kita dari proses yang kita lalui sama-sama. Aku dan teman perempuan lainnya (barangkali) akan memakai kebaya dan high heels, dan yang laki-laki mengenakan stelan jas dan dasi.

Hmph, masih ingat waktu kita dikumpulkan dalam satu ruangan yang disebut aula? Waktu kita diperkenalkan dengan kampus baru kita. Waktu aku dan kalian masih asing, padahal duduk berhadapan atau saling menyentuh bahu. Waktu itu salah seorang dosen kita menjelaskan bahwa kita akan menaiki perahu, perahu perkuliahan. Sekarang kita sudah dekat lagi dengan dermaga, dermaga masa depan, pelabuhan untuk selanjutnya mencari jalan dan menjalani kehidupan masing-masing.

Selalu saja seperti ini, Kawan. Seperti cinta yang rentan sakit hati, seperti kehidupan yang menjanjikan kematian, maka seperti itulah pertemuan. Selalu satu paket dengan perpisahan. Lalu (si)apa yang harus disalahkan? Ah, sudahlah, aku tak mau mencari siapa atau apa yang salah, toh Tuhan yang mengatur. Dan aku tak berani menyalahkan Tuhan. Hehe..

Sayup-sayup di benakku muncul lirik lagu ini, “Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini..” Mungkin tulisan ini akan lebih ‘romantis’ kalau aku sampaikan pas kita sudah dapat title nanti. Tapi kembali lagi ke bait keempat pada tulisanku ini, “Entah beribu entah lah… Aku merasa waktuku bersama teman-teman (kampus)-ku sudah semakin dekat dengan perpisahan…”

P.S: Kalau tulisan ini dianggap berlebihan (lebay), maka anggap lagi saja aku sedang mabuk, Kawan. Haha.

#30HariMenulisSuratCinta

Surat Cinta Untuk Tuhan

Standar

Bolehkah aku sebut ini sebagai Surat Cinta Untuk Tuhan?

Seorang wanita paruh baya terlihat sangat rusuh dengan membopong seorang pria paruh baya yang mulutnya ditutupi masker berwarna hijau dengan kursi roda. Ia menghentak-hentakkan tangannya ke meja petugas rumah sakit dengan mata menyulut emosi karena petugas itu lebih mementingkan administrasi dibanding keselamatan pria paruh baya itu. Pria itu terlihat begitu lemah. Kelopak matanya terus bercucuran air mata, sementara dibalik masker hijaunya, mulutnya tak berhenti mencucurkan darah. ia nyaris kehilangan semangat hidup waktu dokter memvonisnya terkena tumor ganas di mulut nyaris stadium 4. Badannya kurus dan menguning. Ia lebih tepat disebut mayat hidup, saat itu. Semalam sebelum pagi harinya ia dibopong wanita paruh baya itu ke rumah sakit, ia melihat almarhumah ibunya menjemput didepan pintu rumahnya. “Mama! Mama!” teriak pria paruh baya itu sambil menunjuk ke arah pintu. “Tidak ada Mama, Bah! Tidak ada!” teriak wanita paruh baya yang tidak lain adalah istrinya. “Kita ke rumah sakit sekarang, ya?” sambungnya lagi dengan nada cemas!”. “Aku masih kuat!” jawab pria itu. Jawaban yang selalu sama setiap kali dilontarkan pertanyaan yang sama.
.
.
.
“Tuhan..
Coba kau lihat dia
Ia sekarat meregang nyawa
Ah, bukankah Kau Maha Melihat?

Tuhan..
Tidakkah kau kasihan
Aku lebih rela Kau utus Izrail-Mu untuk melepas nyawa yang dikandung dihayatnya
Ia kesakitan menanggung pesakitan
Ah, bukankah Kau Maha Pengasih?

Tuhan..
Tak sedikit waktu, tenaga, dan uang yang dikorbankan untuk merawatnya selama hampir 12 bulan
Tidakkah Kau tahu?
Ah, bukankah Kau Maha Tahu? ”
.
.
.
15 malam 16 hari Pria paruh baya itu dirawat di rumah sakit. Istrinya tetap setia mendampinginya. Butuh 3 kantong darah tambahan sebelum akhirnya 8 kantong darah yang dibutuhkan untuk ‘mengembalikan’ nyawa pria itu. Ia rela bemalam-malam tak nyenyak tidur untuk menjaga suaminya.
Sepulangnya mereka ke rumah. Sang istri rela bangun pagi-pagi memasakkan bubur untuk suaminya. Jangan pernah kalian bayangkan bubur yang dimaksud adalah bubur ayam. Bubur itu terbuat dari tepung beras, kemudian disaring lalu dicampur dengan susu nutrisi khusus untuk penderita kanker. Jangan juga kalian bayangkan bubur itu dapat disuapkan melalui sendok ke dalam mulut. Ada segumpal daging yang sungguh mengeluarkan bau busuk dari dalam mulut itu. Jadi, bubur itu disuntikkan ke dalam selang yang dimasukkan ke dalam hidung untuk sampai di bagian lambung. Hal Itu berlangsung setiap pukul 6 pagi. Kemudian pukul 7, sang isteri kembali menyuntikkan obat-obatan melalui selang yang sama. Pukul 9 sang isteri menyuntikkan rebusan air daun sirsak. Pukul 11 menyuntikkan obat tradisional (jamu, red). Pukul 12, kembali bubur tepung terigu yang dicampur susu. Sejam kemudian obat-obatan. Pukul 3 siang saatnya menyuntikkan jus brokoli. Pukul 5 sore jus tomat. Pukul 7 bubur lagi. Pukul 8 jamu lagi, dan hendak tidur malam disuntikkan obat kembali. Ya, segalanya harus disuntikkan melalui selang yang kaum kesehatan namai dengan sebutan Feeding Tube. Bahkan tengah malampun sang istri terjaga untuk kembali menyuntikkan susu nutrisi untuk sang suami. Hal ini berlangsung setiap hari. Tidakkah pria paruh baya itu sungguh beruntung? Tidakkah sang istri sungguh mulia? Aku yakin, surga dibawah telapak kakinya berpindah ke telapak tangannya. Ia dapat memasuki pintu surga dari mana saja. Semoga.

Pria paruh baya itu adalah ayahku, dan wanita berhati mulia itu adalah ibuku. Jangankan ayahku, akupun hampir putus asa menghadapi ini semua waktu itu.
.
.
.
“Tuhan..
Karena Kau Maha Melihat, Maha Pengasih, Maha Tahu, dan dengan sifat-sifat-Mu yang Maha Segalanya
Kami masih bernafas hingga saat ini
Karena sifat pemurah-Mu, tumor ganas stadium 4 di rahang Ayahku yang divonis dokter takkan sembuh, pada akhirnya sembuh atas izin-Mu, atas kemuliaan hati yang Kau tanam dalam hati ibuku
Tuhan..
Terimakasih atas kesempatan yang Kau berikan kepada kami untuk belajar menjadi orang yang sabar dan ikhlas menjalani kehidupan
Dari sini aku tahu bahwa , tenaga, waktu, kesehatan, dan kesetiaan adalah hal-hal yang tak bisa digantikan dengan uang begitu mudahnya
Dari sini aku tahu mana yang benar-benar berempati dan mana yang pura-pura bersimpati. Barangkali tidak peduli lebih baik daripada manis didepan tapi bertepuk tangan dibelakang.
Dari sini aku tak mau lagi mengisi “What Happening?”-nya Facebook ataupun Twitter dengan tulisan semacam “Get Well Soon, Abah” atau “Semoga abah baik-baik saja”. Aku malu, Tuhan. Aku ditertawakan menulis semacam itu. Apa mereka pikir aku meminta belas kasihan?
Tuhan..
Kiranya lautan yang ada di bumi ini dijadikan tinta, tak cukup jua menuliskan segala tentang-Mu, tentang kebesaran-Mu, dan tentang kemurahan-Mu

Aku dan maafku,

Hamba-Mu yang masih belum sempurna dalam menyembah-Mu.”

#30HariMenulisSuratCinta