Category Archives: Pena Cerpen

Satu Iman Beda Imam (Mazhab)

Standar

Aku duduk tersandar, bertumpu pada dinding

Dinding yang selama ini menjadi saksi bisu pada semua keluh kesah, tawa, bahagia, ataupun duka yang tak ingin ku bagikan kepada siapa-siapa

Aku menatap kosong kedepan

Bibirku terkatup, rapat

Aku diam memendam semua rasa didalam dada

Mengubur setiap asa yang nyaris terjamah

@@@

“Satria, dengarkan aku baik-baik!” katamu di sudut gagang telepon rumahmu

Aku mengangguk

“Sudah lama sekali ada yang ingin ku sampaikan padamu..”

Kenapa kau harus mengatur nafasmu sedimikian rupa hanya untuk menyampaikan sesuatu? Ah, paling-paling kau meminta ijin untuk berziarah ke makam kakek moyangmu, kan?

Ya, kau masih milik ayahmu, aku tak kuasa apa-apa.

“Bicaralah!” kataku dengan suara seringan mungkin. Aku tidak sedang berada di ruangan sidang skripsi, kan? Kenapa rotasi bumi sepertinya macet? Gelisahku

“Aku…  kamu selama ini terlalu baik kepadaku. Aku, aku.. sangat berterimakasih akan hal itu. Kamu… banyak mengajarkan hal kepadaku, kamu juga menjadikan perbedaan terasa indah. Rasanya tak adil di dunia ini bila hanya di isi dengan manusia saja, atau tumbuhan saja. iya, kan? Seperti yang sering kau bilang. Terimakasih juga karena….”

“Langsung pada intinya, Rena!” selaku

Jantungku terasa berdegup tidak sewajarnya

Paru-paruku seakan dipenuhi cairan klorofom yang membuatku sebentar lagi tak sadarkan diri

Entah mengapa, aku merasa sangat takut

“Satria, bulan depan aku mau nikah!” katamu. Suaramu melemah

Kepalaku seperti disengat ribuan lebah

Tiba-tiba aku seperti terserang infark myocard

Sekian detik yang ku rasa, rotasi bumi seakan benar-benar rusak.

Aku tak kuasa ingin bergerak

“hahaha..” aku mencoba terkekeh untuk mencairkan suasana

“Sabar dulu, Sayang! Kan aku janji, tahun depan kita akan menikah. Aku lagi mengump..?”

“Bukan denganmu, Satria!”

“Ppppfftt..ttaa..taa.ttaapii….” jawabku terbata-bata. Ada butiran-butiran bening yang memanas dari kelopak mata yang tanpa diperintah dengan lancangnya keluar tanpa seijin tuannya

“Satria, maafkan aku!” sergahmu segera

“Kau tak punya cacat di mataku, dan ku yakin juga di mata Tuhan. Kau kekasih yang setia dan hamba-Nya yang taat. Tapi sadarkah, kau? Beberapa tahun terakhir ini kita tak dapat merayakan Idul Fitri pada hari yang sama. Kau bersikeras mengucapkan “Selamat Idul Fitri” kepadaku pada hari dimana aku menjalani ibadah puasaku di akhir Ramadhan. Kau bersikukuh untuk mengajakku makan siang padahal kau tahu aku sedang ibadah puasa sunah, puasa nisfu syakban. Kemudian kau selalu mengumpat kepada tukang-tukang warung yang tutup pada hari itu. Satria, kalau nasrani saja menghargai, mengapa kita yang sesama muslim tidak? Aku selalu sujud syahwi pada suatu subuh ketika kau menjadi imam shalatku, kau tak ber-qunut, sedang aku sebaliknya! Kau juga selalu mencibirku kalau aku sedang berziarah ke makam kakek moyangku, seorang pahlawan Islam di kota ini yang bahkan tinggal namanya saja masih dikenang orang. Apa itu salah? Satria, kenapa perbedaan itu tak lagi indah seperti yang pertama kali kau ajarkan?”

@@@

Aku tahu kita satu Tuhan

Kita satu keyakinan dalam satu hal

Tapi kita berbeda keyakinan dalam hal lain

Sama-sama mencintai Allah dan Muhammad-pun tak lantas membuat kau dan aku menjadi satu

Aku terima apapun keputusanmu. Berbahagialah dengan se-iman(m) Syafi’i-mu

Kemanapun kau lari

Dengan siapapun kau berhubungan

Bila kamu takdirku

Takkan lari kemana jua, Rena..

Bye…

*PS: dibuat untuk proyek sangat kecil bersama byeol92 dengan tema Cinta Beda Keyakinan ^^

Buku Kecil “Cinta Cangkang Telur”

Standar

Kata Pengantar

Burung-burung tetap pada sarangnya. Namun saat telur yang sedang dieraminya jatuh ke tanah, ia segera meluncur seolah-olah mampu menahan. Namun telur itu telah lebih dulu rata dengan tanah. Tapi setidaknya ia sempat memperjuangkan cintanya agar sesalnya tidak terlalu lama.

Bab I

Langkah kakinya terseret-seret melewati koridor yang sempit lagi gelap. Tulangnya yang kian rapuh dimakan zaman membuat ia kesulitan dalam berjalan. Tangan kanannya berusaha keras mengayuhkan tongkat agar ia sampai duduk ke kursi roda didekat jendela. Dari balik tirai putih itu, ia menatap bunga matahari yang tertunduk layu karena tiada lagi mentari pagi. Sementara ia, tertunduk lesu meratapi sesalnya hingga hari ini. “Seperti katamu, aku tetap tegar, Mentari!” katanya lirih.

Bab II

Tegar memilih tempat duduk dibaris kedua dari belakang di kelas tempat ia akan menuntut ilmu. Hari itu adalah hari pertama Tegar menjadi pelajar SMA. Tanpa sadarnya, semburat merah jambu telah mewarnai pipi putih dari gadis bernama Mentari karena telah ia salami. Kemudian langkah kaki sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa telah sampai didepan mereka. Semua yang ada dikelas membisu. “Selamat pagi. Perkenalkan saya adalah wali ke…” dan begitulah seterusnya pada hari pertama tahun ajaran dimulai.

Bab III

Pagi itu matahari bersinar cerah. Sama cerahnya dengan perasaan Mentari hari itu. Ia merasa sedikit lebih bebas dari tugas sekolah. Dan yang paling indah, hari itu Tegar mengikuti lomba 17 Agustus. Mentari semangat menyemangatinya. Tanpa sengaja sepasang mata mereka bertemu dan membuat kelereng yang ada didalam sendok yang sedang dibawa Tegar dengan mulutnya terjatuh sebelum mencapai garis finish. Ia kalah, tapi tersenyum. Ia merasa ada sedikit sengatan listrik yang membuatnya sedikit gemetar saat matanya bertemu dengan mata Mentari. “Tak apa. Seperti namamu, kamu harus tetap tegar, Tegar!” Mentari menyemangatinya.

Bab IV

Siang itu, Mentari duduk sendiri didepan kelas. Sekolah yang sepi membuatnya melirik jam ditangannya sedari tadi. “Ayah masih lama…” ucapnya lirih. Tanpa disangka, Tegar datang dan menyodorkan 1 cup es krim kepadanya. Kini, warna pipinya hampir sama dengan warna tali jam tangan merah muda yang dikenakannya. “Kamu pernah jatuh cinta?” Tegar membuka suara. “Heeh..” jawab Mentari singkat. “Seperti apa rasanya?” Tegar kembali bertanya. “Seperti saat ini…” jawab Mentari lagi. Lalu ia berlalu pergi dan meninggalkan Tegar karena ayahnya sudah sampai didepan gerbang sekolah. Lalu Tegarpun tersenyum.

Bab V

Hari itu, Tegar menghadiahi Mentari sebuah boneka kecil berwarna cokelat sebagai tanda perpisahan di hari perpisahan sekolah mereka. “Hanya ini?” tanya Mentari dalam hati. “Terimakasih!” ucapnya singkat.

Bab VI

3 Tahun usai mereka lulus sekolah, dua insan itu masih erat berhubungan. Mentari, tetap semangat dan sinarnya tak redup menanti pepatah cinta dari Tegar.  Tegar, dengan ketegarannya, menyatakan cintanya dengan caranya sendiri. Dengan cara yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun.

Bab VII

Pagi itu Tegar begitu semangat mengawali hari. Hari ini, Teguh kakaknya akan datang mengenalkan calon isteri. Kebahagiaan itu membuka pikirannya untuk jujur terhadap orang yang selama ini telah lama dihatinya. Orang yang belakangan ini susah untuk ia hubungi. Dia mengambil telepon genggamnya, menekan nomor telepon yang sudah ia hapal dliluar kepala. “Mentari, angkat!” katanya tak sabar. “Halo.. Tari.. aku ingin bicara. Boleh kita ketemu?” Tegar langsung pada inti pembicaraan. “Aku juga ingin bicara. Tapi lewat telepon ini saja.” Mentari membuka suara. “Oh.. silahkan!” Tegar menjawab. “Tegar, seseorang telah datang kepadaku dan kepada kedua orangtuaku seminggu yang lalu. Ia menyampaikan rasa cintanya kepadaku dihadapan kedua orang tuaku. Tak ada cacat sedikitpun darinya dimata kedua orang tuaku sebagai calon suami untukku. Mereka merestuinya. Aku mengenalnya 2 tahun yang lalu sebagai seniorku di kampus. Dia teguh pada pendiriannya untuk tetap mengejar aku. Berkali-kali ia ungkapkan cinta namun aku tidak menjawabnya. Kini aku merasa, rasa ini telah sampai diujung lelahku. Aku lelah untuk menanti cinta yang tak pasti. Aku juga lelah untuk lari dari cinta yang pasti. Aku memilih untuk bertahan dan menerima cinta yang ada. Aku yakin, kebersamaan akan menumbuhkan rasa cinta itu. Rasa cinta yang seperti sekarang namun tidak lagi terpendam!” Mentari mengusap air mata yang jatuh ke pipinya usai menjelaskan perihnya perihal yang ia sampaikan pada Tegar, cinta yang ia tinggalkan.

Bab VIII

Hari itu, Tegar menjadi saksi pada pernikahan kakaknya, Teguh. Kini, Mentari yang masih ia cintai duduk cantik disamping kakaknya. Ia menjadi wanita tercantik hari itu. Tegar menjadi orang yang paling rapuh saat itu, namun tetap berusaha bersembunyi dibalik senyum dibibirnya. Sama halnya dengan Tegar, Mentari masih saja menyembunyikan wajah keterkejutannya dibalik rias cantik wajahnya, masih tidak percaya bahwa Teguh, suaminya adalah kakak dari Tegar.

Bab IX

Sesal Tegar tiada berujung. Ia tak pernah ragu pada perasaannya. Namun ia selalu kembali tak berani untuk mengungkapkan perasaannya.  Dilain tempat, Mentari perlahan-lahan mengubur kenangannya. Ia merapikan semua perkakasnya ke dalam kardus. Hari itu, ia akan pindah ke rumah barunya besama Teguh. Boneka kecil berwarna cokelat yang dulu diberikan Tegar kepadanya ditatapnya dalam-dalam. Dengan erat ia pegang boneka itu sebagai tanda perpisahan, sebagaimana tanda perpisahan yang pernah diberikan oleh Tegar kepadanya waktu itu. Namun ketika ia memegang erat boneka itu dan bemaksud hendak mendekapnya, boneka itu menimbulkan suara “I LOVE YOU”. Tak percaya, sekali lagi ia tekan dengan sekuat tenaga, boneka itu seolah-olah mewakili Tegar untuk mengucapkan “I LOVE YOU”. Air mata membanjiri kedua pipinya yang putih pucat.

Penutup

Nasi telah menjadi bubur. Cangkang telur telah hancur. Tak dapat diubah-ubah. Barangkali, kehidupan kembali pada kehidupan. Belajar kepada alam, bahkan tentang cinta sekalipun.

 

*pengemasan cerpen diatas dalam bentuk ‘buku kecil’ terinspirasi dari penyair favorit saya, M. Aan Mansyur 🙂

Originaly created by: Widya Asnita

Bayang-Bayang Laki-Laki Flamboyan

Standar

“Tan, kamu suka kan sama Teguh?” tanyaku, tapi dia tidak bergeming. “Ah, masih diam, aku bisa baca dari matamu itu sayang, jujurlah, aku dukung kok!” Bibirnya mulai melebar, membentuk senyuman nan indah, matanya teduh, selembut pembawaannya, aku menyayangi sahabatku yang satu itu, Tania namanya. “Kamu dukung aku Sar? Serius?” “Heeh!” jawabku. “Sar, kamu benaran serius nih?” Tanyanya untuk mempertegas pernyataanku. “Sekali lagi kamu tanya, aku panggil si Teguh itu, lalu aku akan teriak didekat kupingnya bahwa: “TANIA SAYANG TEGUH!” aku bercanda dengannya. Lalu dia loncat dan memelukku sebentar, dengan mata berkaca-kaca, dia berkata “Sarah yang manis dan baik hati, sahabat terbaikku di seantero negeri, makasih sayang, kamu dukung aku, aku pikir kamu juga memiliki rasa sama dia, heheheee.” Sambil terkekeh dia berujar. Aku terdiam sejenak, memandang hamparan langit sang Pencipta. Tania menggoyang-goyangkan bahuku, aku tersadar, lalu berkata “Tan..Tann.. aku tak habis pikir denganmu, apa sih yang kamu pandang dari seorang Teguh? Wajah…. Standar, bahu… tidak bidang, pemain basket…bukan, main gitar…tidak bisa” Ledekku untuk membuat wajahnya manyun sejadi-jadinya. “Ah, kamu Sar, terlalu, apa kau tidak pernah dengar, bahwa cinta bisa datang kapan saja, dan tidak peduli pada siapa saja. Kamu sendiri, kenapa mesti jatuh cinta sama Tony si pendiam dan hitam itu?” Ledek dia membalasku, sekarang aku yang jadi melongo dan bingung untuk berkata-berkata, lalu dia tertawa dengan begitu lepasnya, tanpa beban, tapi didalam hatiku, aku terhenyak. “Nah itu kamu tahu kalo aku suka sama Tony, kenapa kamu memvonis kalo aku suka sama Teguh?” aku membela diri, lalu dia diam sebentar, lalu terkekeh “Heehee…”

“Tan, kamu pulang aja duluan, hari ini aku dijemput sama ayahku.” “Gakpapa deh, aku tungguin sampe ayah kamu datang.” Jawabnya. “Hari makin gelap Tan, padahal masih jam setengah 3, kamu bawa jas hujan gak?” tanyaku lagi “Aiihh, ketinggalan Sar..” bibirnya manyun. “Makanya, pulang duluan gih, lagian sekolah masih belum sepi kok, aku gak papa.” Kataku lagi untuk meyakinkannya.”Bener gak papa? Sayang ya arah rumah kita begitu berlawanan” katanya. ”Hooh” jawabku singkat. “Sar, beneran nih gakpapa? Kamukan rada penakut gitu orangnya” celetuknya lagi. “Kayaknya sepeda motor Teguh masih ada tuh, berarti orangnya masih disekitar sini, gue mau teriak aaahhh…” candaku kepada Tania. Ditutupnya mulutku, sambil berdiri dan memakai tas, dia berkata “Iya, gue pulang nona manis, ancamannya itu melulu: TANIA SAYANG TEGUH, huh!” katanya. “Makanya, kalo cinta jangan dipendam, ungkapkan!” kataku. “Alah, kayak lu berani aja ngomong sama si item.” Ledeknya lagi, sambil setengah berlari dia berkata sayup-sayup: “SARAH RAHARDIAN CINTA TONY, hahahahaaa..” dia lari ke tempat parkir, dan aku malas mengejarnya.

Seseorang berdiri dihadapanku ketika aku menundukkan wajahku dan sibuk mengutak-atik handphoneku yang ternyata kehabisan baterai, lalu perlahan aku mengangkat wajahku dan yang berdiri dihadapanku sekarang ini adalah laki-laki yang sudah ku cintai 2 tahun ini.

“Belom pulang Sar? Hape kamu kenapa?” Teguh bertanya. “Dijemput Guh, sepeda motorku lagi diservis, jadi tadi pagi diantar, pas mau nelpon ayahku, hapeku mati, low bat nih kayaknya.” Jawabku. “Ya sudah, pake handpnhoneku!” pintanya. Aku dengan Teguh memang sudah akrab, lebih akrab dibanding Teguh dengan Tania. Lalu ku pinjam ponselnya untuk menghubungi ayah, tapi ternyata ayah baru bisa menjemputku pukul lima sore. “Makasih Guh” kataku sembari mengembalikan handphonenya. “Gimana? Jadi  dijemput?” tanyanya lagi. “Dijemput pukul 5, ayahku masih ada rapat sampai sore katanya.” Jawabku lagi. “Pulang bareng aku aja gimana? Kalau nunggu sampe jam 5 masih lebih dari 2 jam lagi loh!” Katanya. Aku diam. Dia diam. “Ya sudah kalo gak mau, aku duluan nih” dia membuka suara. Lalu aku menahan langkahnya, ku lirik matahari semakin tiada, ditutup oleh awan nan berarak lagi gelap. “Guh, tunggu!” dia menoleh, aku tersenyum, dia tersenyum, lalu kami berjalan beriringan.

@@@

Hari ini Tania sakit, thypusnya kambuh, selesai sekolah aku berniat langsung menjenguknya. Teguh yang ketua kelas kami disekolah juga berniat menjenguknya. Kami ke rumah Tania, sekali lagi, berbarengan. Rasa sesak didada mulai menyergapku. Meski kali ini aku tidak diboncengnya, meski kali ini kami pergi memakai sepeda motor masing-masing, tapi ada yang berkecamuk didada, juga dikepala. Aku masih belum mengerti dengan apa yang ku rasa.

@@@

“Thypusnya Tania kambuh Tante?” tanyaku memastikan kepada ibunya Tania. “Iya Sar, kemarin sepulang sekolah dia hujan-hujanan, sorenya mengurung diri dikamar, Tante sama Om bingung, dia mogok makan juga mogok bicara, malam tadi demam, panasnya tinggi banget, pas dipanggil dokter dan dikasih obat, dia tertidur dan mulai redaan.” Ungkap Tante Inggrid kepada kami. Teguh menyodorkan buah-buahan yang sempat kami beli dipinggir jalan. Perasaanku mulai tidak nyaman setelah mendengar penjelasan Tante Inggrid. “Kami ganggu gak ya Tante? Tania kan lagi istirahat, maaf Tante.” Ucapku sungkan. “Ah, kamu Sar, kamu itukan teman baiknya Tania, udah kayak saudaraan aja, gak usah sungkan, lagian Tania pasti seneng kok.” Jawab Tante. Kami tersenyum. Aku dan Teguh memohon diri ke kamarnya Tania.

Entah kenapa, kali ini aku merasa sangat bersalah terhadap Tania, aku jadi canggung, takut ngomong layaknya seperti orang memiliki kesalahan. Ketika kami masuk, Tania sedang berbaring, wajah dan matanya menghadap ke arah luar jendela, memperhatikan sekawanan burung yang sedang bertengger ditiang listrik. Dia menoleh kepadaku, lalu kepada Teguh, lalu tiada ekspresi. Aku mendekat, duduk disampingnya. Teguh berdiri sambil melempar senyum kepada Tania. Dia masih diam. Aku membuka suara. “Kemarin hujan-hujanan Tan? Berteduh dulu kek sebentar, udah tau gak bawa jas hujan, kalo udah sakit siapa yang repot, sayang?!” cetusku sembari menghilangkan rasa galau dihati. “Iya Tan, kalo kamu gak masuk sekolah, nanti bukunya siapa yang aku pinjam, tulisan tangannya Sarah kan jelek banget, kaya tulisan tangannya dokter Syamsuddin.” Katanya sambil tertawa terbahak-bahak.  Tak tahu diadat benar si Teguh itu, mengejek tulisanku dan tulisan ayahnya sendiri. Aku merajuk, sekedar pura-pura. Tania masih diam, tapi mencoba tersenyum, tipis sekali senyumnya. Dan seperti itulah Teguh, terkadang sangat menjengkelkan, tapi rasa ini tetap untuknya. Pernah dulu waktu kami olahraga, karena aku sama sekali tak bisa bermain basket, alhasil satupun bola tak ada yang bisa ku masukkan ke dalam ring. Teguh angkat bicara padaku, “Sudahlah Sar, kalo gak bisa ya gak bisa aja, hehee.” Jengkel benar aku dengannya waktu itu. Rasanya bodoh sekali aku ini tetap menyayanginya.

Teguh meminta ijin keluar sebentar, katanya mau mengangkat telpon. Tania belum buka mulut untuk bicara. Ketika aku ingin bersuara, tiba-tiba dia berkata, “Iya Sar, kemarin aku pulang hujan-hujanan dan mendapatimu pulang diantar Teguh, aku tidak mengerti denganmu Sar, kau tahu kan, aku mencintainya. Baru saja kau bilang bahwa kau mendukungku, tak lama kemudian kau yang merebutnya dariku.” Aku bungkam untuk sejenak. Rupanya dia tahu kejadian kemarin. Rupanya aku yang telah membuatnya sakit. Aku semakin terhenyak. “Tan, iya, aku memang pulang dengan Teguh kemarin, itu karena ayahku baru bisa menjemputku pukul lima sore, Teguh tiba-tiba menghampiriku, dia mengajakku untuk pulang bersama, aku mengiyakannya, karena ku lihat hari semakin gelap. Tan, sungguh, kami tidak memiliki hubungan apa-apa, anggap saja aku hanya meminta tolong dengan Teguh untuk diantar pulang. Tan, aku takkan mungkin jadian dengan Teguh. Kamu itu terlalu baik, terlalu baik untuk disakiti. Percayalah padaku Tan.” Jelasku kepada Tania sebisa mungkin. meski aku menyayangi Teguh, rasa ini akan aku tangguhkan, akan aku tahan, demi kamu Tani. Aku sudah terlanjur berjanji kepadanya.

“Sudahlah Sar, aku memang cemburu karena aku mencintainya, tapi harusnya aku tak berlebihan, toh aku juga tak memiliki hubungan apa-apa dengan Teguh. Harusnya aku bisa berpikir positif.” Katanya sambil tersenyum. Aku menangis, tapi didalam hati. Aku juga mencintainya Tan, aku tahu kamu mencintainya, untuk itu aku menutupi perasaanku, aku tak  mau kamu terluka. “Makasih Tan.” Ucapku lirih sambil tersenyum.  Tidak lama kemudian Teguh masuk. “Udah belom Sar ngomongnya sama Tania, gantian nih, lu yang berdiri, gue yang duduk, pegel gue.” Teguh berujar. “Iyadeh, nih lu duduk, kali aja si Tania cepat sembuh.” Aku pura-pura merajuk, tapi sebenarnya rada jengkel juga sih sama si Teguh bocah edan itu. Aku sendiri heran, kok bisa-bisanya jatuh cinta sama orang kayak si Teguh itu.

@@@

                Lusanya, Tania masuk ke sekolah lagi. Dia sudah sehat dan nampak lebih ceria. Entah kenapa, dia dan Teguh semakin dekat saja. Gosip tentang hubungan mereka merebak tapi mendapat banyak tanggapan positif dari teman-teman sekolah. Aku sendiri bingung, kenapa banyak yang tahu mengenai ketertarikan Tania terhadap Teguh. Setelah ku tanyakan kepada Tania, dengan santainya dia bilang “Aku sendiri yang ngaku sama beberapa teman dekat kita Sar.” Aku melongo, dia malah tersipu-sipu malu sambil tersenyum-senyum simpul. Heran aku dibuatnya. Sementara itu, Tony sendiri semakin dekat denganku. Dia cowok yang baik menurutku. Aku juga nyaman bersamanya, meski tak senyaman dengan Teguh. Nyata-nyatanya, hingga kelulusan sekolah tiba, hubungan Teguh dan Tania, masih disitu-situ saja, malah yang aku tahu setelah Tania sempat curhat, Teguh sekarang sudah jarang menghubunginya. Katanya dia sibuk mengurus rencana kuliahnya ke luar provinsi. Sedangkan aku dan Tony, hampir tak ada lagi komunikasi. Terakhir yang  aku tahu, ternyata dia masih dengan cewek asal daerahnya, Banyumas. Padahal waktu itu dia bilang denganku bahwa dia masih menjomblo. Meski tak begitu sayang dengannya, tetap saja aku dongkol mengetahui kabar itu. Dimana-mana laki-laki sama saja, pembohong!

Kini aku dan Tania sudah menjalani kehidupan masing-masing. Sesekali kami masih sempatkan berkomunikasi. Diwaktu sama-sama libur, kami janjian untuk ketemuan. Sekedar nonton dan jalan-jalan sekaligus curhatan. Hari Minggu itu kami menyusun rencana untuk jalan-jalan ke Mall, setelah janjian ketemuan ditaman dekat bundaran kota kami langsung ke Mall. Sambil makan siang dan sambil membahas masalah kuliah masing-masing dan bertanding nilai Indeks Prestasi (IP), aku mengalihkan pembicaraan ke topik lain. “Pacar kamu sekarang siapa Tan?” Aku membuka suara. Lalu dia menjawab “Aku masih menunggu Teguh, Sar” dia menunduk. Aku tertegun. Segitu besarkah penantiannya tanyaku dalam hati. Lalu yang ku rasa ini apa? Rasaku terhadap Teguh belum juga musnah. “Komunikasi masih lancarkan Tan?” tanyaku lagi. “Masih sih Sar, cuma gak sering, terkadang aku yang  sms dia duluan, dianya ngerespon sih, cuma ala kadarnya aja, akhirnya aku males sms dia duluan.” Dia tanya balik ke aku “Kamu sendiri sekarang sama siapa Sar? Si Tony gimana kabarnya?” Entah kenapa aku tak suka dengan pertanyaannya, aku menjawab sekenanya “Sama Tan, gak ada, si Tony ke laut kali.” Lalu Tania paham dengan maksudku, karena aku sempat ceritakan bahwa Tony ternyata masih dengan pacar lamanya. Dia mengajak jalan-jalan lagi dan kami membeli es krim. Setelah seharian itu, kamipun pulang.

@@@

                Sementara itu, aku dan Teguh kian dekat, kami masing-masing cerita masalah pribadi, tapi sekalipun dia tak pernah mengungkit masalah Tania, akupun juga tak mau mengungkitnya lebih dulu. Suatu hari, Teguh mengajakku pergi jalan-jalan ke Mall, kami nonton dan makan bareng, cuma berdua. Meski senang, namun aku merasa tak nyaman, tak nyaman dengan perasaanku sendiri. Aku masih teringat akan Tania. Bagaimana perasaanya sekarang ini jika mengetahui aku jalan berdua dengan Teguh. Sedangkan waktu aku pulang sekolah di antar Teguh dulu, dia saja sampe sakit-sakitan. Tania maafkan aku.

Ketika makan siang dengan Teguh, aku memberanikan diri untuk bertanya  dengannya “Guh, sebenarnya perasaan kamu ke Tania itu gimana sih?” Dia menarik nafas panjang mendengar pertanyaanku. “Tak usah ku bilang lagi, kau sendiri tahukan kalo dia itu menaruh rasa kepadamu dan berharap rasa itu berbalas dari kamu? Kenapa kamu gak jadian aja sih dengannya” sambungku lagi. “Sar, bisakah kau untuk tidak memikirkan masalah ini? Maksudku tidak mengungkit masalah Tania lagi. Kau jujur saja kepadaku, kau memiliki rasa kan sama aku?” ungkapnya dengan nada yang tidak dibuat-buat bahwa dia sekarang sedang serius. “Kenapa kau mesti memikirkan perasaan orang lain? Kau pikirkan saja perasaanmu!” sambungnya lagi. “Apa maksudmu?” jawabku sedikit terbata-bata sekaligus terkejut akan pernyataannya. “Sudahlah Sar, kau mencintaiku kan? Aku juga Sar!” Jawab Teguh lagi. Aku semakin terkejut juga semakin bingung arah pembicaraan ini. Aku berusaha mengungkapkan apa yang aku rasa terhadapnya. “Iya Guh, aku akui, aku memang memiliki rasa terhadapmu, bahkan sudah lama, sejak lama. Tapi, aku takkan pernah berani mengubah hubungan kita lebih dari sekedar ini. Tania terlalu baik untuk aku sakiti, untuk aku khianati. Aku bahkan pernah berjanji untuk tidak akan pernah jadian denganmu Guh. Aku tersiksa dengan perasaan ini, tapi aku juga tersiksa apabila aku mengkhianati Tania. Tapi aku juga tidak sanggup untuk mengabaikanmu. Aku belajar untuk tidak peduli terhadapmu. Aku tidak bisa. Aku belajar untuk marah kepadamu, aku juga tidak bisa. Kau pikir aku tidak tahu, kau sempat dekat dengan seorang cewek satu kampus denganmu kan? Tapi cewek itu memutuskan untuk berteman saja denganmu, waktu itu aku ingat betul, kau sudah jarang sekali menghubungiku. Smsku pun kau balas sekenanya, bahkan ada yang tidak kau balas, dan itu  tidak sekali kau lakukan. Karena apa? Karena kau sedang dekat dengan cewek itu kan?! Lalu sekarang, kau kembali kepadaku, kembali dekat denganku setelah sebelumnya kau sempat dekat juga dengan Tania, apa maksudmu dari semua ini Guh? Tolong aku Guh, aku bukan mainanmu, aku dan Tania bukan boneka atau barang Guh! Bodohnya lagi, aku takkan pernah bisa untuk marah kepadamu. Aku sebenarnya benci kepadamu, tapi rasa benci ini terkalahkan oleh rasa ini, Guh. Asal kau tahu, sakit rasanya!” Ungkapku dengan air mata berlinang, lalu aku menyeka air mataku. Nampaknya dia tertegun dengan apa yang aku bicarakan, aku sendiri tak menyangka, bahwa aku dapat mengungkapkannya dengan sejelas itu. Tapi aku merasa lebih lega sekarang. Teguh mencoba menenangkanku, dia memegang telapak tanganku yang waktu itu berada diatas meja makan, dia menggemgamnya dengan erat waktu dia ingin mengatakan sesuatu. Aku mengangkat wajahku, ku pandangi wajahnya, namun ternyata yang ku dapati sekarang dan yang ku pandang adalah sorotan mata yang tajam dengan air mata yang berlinang. Mata yang teduh dengan pembawaan yang lembut itu terlihat kian rapuh. Ya, yang ku pandangi sekarang adalah Tania, Teguh bingung melihat sorot mataku yang menatap ke belakangnya, dia menoleh ke belakang dan berkata lirih “Tania!” Tania menatap tajam tangan kami, yang baru saja aku sadari bahwa Teguh masih menggemgam tanganku. Aku lekas-lekas menariknya, begitu juga dengan Teguh. Nampaknya Tania salah paham dengan apa yang dilihatnya. Dia langsung berlari tanpa menghiraukan panggilanku. Aku mengejarnya hingga keluar. Teguh berusaha menahanku, namun aku tetap berlari mengejar Tania. Aku berhasil menangkap Tania, dia tertahan sebentar, dengan air mata yang tidak dibuat-buat dia berujar “Aku salah apa sih Sar? Mana katamu kalau kamu mendukungku? Mana janjimu untuk tidak ada apa-apa dengan Teguh, Sar? Kau pembohong!” Aku ingin menjelaskan semuanya. Aku benci salah paham. Ketika aku ingin membuka suara, Tania lari lagi, aku mengejarnya kembali. Hingga waktu itu aku mendengar bunyi klakson mobil yang sangat nyaring dan teriakan Teguh yang sangat keras “Sarah, awaaaass!!” Lalu tiba-tiba semuanya  berubah menjadi gelap.

@@@

“Dear Tania Rahayu Ningtias..

Yang terbaik yang pernah aku kenal..

Tania, mengapa perpisahan ini terasa menyakitkan?

Aku masih ingat betul waktu kita pertama kali berkenalan

Waktu itu kau sedang dimarahi habis-habisan oleh kakak kelas ketika Masa Orientasi Sekolah

Berawal dari sana, kita menjadi akrab, lalu perlahan menjadi sahabat

Tania, sahabatku yang lembut

Maafkan aku jika selama ini aku tidak jujur denganmu

Aku menyayangi Teguh, jauh sebelum kamu mengenalnya

Aku diam dan menyembunyikan rasa ini, tanpa ada seorangpun yang tahu, kecuali Allah

Aku takut bila mengakuinya, itu akan membuatmu terluka

Kedekatanku dengan Teguh saja telah membuat sebagian teman-teman membenciku

Aku dianggap sebagai orang yang paling kejam yang ingin merebut kekasih sahabatnya sendiri

Aku bisa apa, Tan?

Tania sahabatku tersayang

Maafkan aku atas semua kejadian ini

Sungguh, aku tak ada niat menyakitimu, mengkhianatimu

Maafkan aku atas semua yang telah terjadi

Rasa ini diluar kuasaku

Berkali-kali aku berusaha menepisnya, aku tak bisa

Andai saja jatuh cinta adalah sebuah rencana, maka rencana itu pasti akanku tangguhkan, terlebih demi kamu, tak akan ku biarkan cinta ini tumbuh dan mekar, sementara engkau mati dan melayu

Tania, maafkan aku mencintai orang yang kamu cintai

Tapi aku tak pernah ingin merebutnya darimu, atau berusaha memilikinya lalu menyingkirkanmu

Tidak, Tan!

Aku biarkan kemana cerita ini berujung, layaknya air yang mengalir ke muara laut

Aku ikhlas dan menerima keputusan Tuhan, apapun itu

Baik kamu atau aku, sebenarnya laki-laki flamboyan itu tak pantas untuk kita tunggu

Forgiveme and thankyou for everything

Penyesalan tiada akhir,

Sarah Rahardian”

@@@

                Kukirimkan surat itukepada Tania melalui surat elektronik. Sekarang aku sedang berada diluar negeri, menjalani pengobatan karena kaki sebelah  kiriku mengalami trauma dan masih dalam tahap penyembuhan. Setelah kecelakaan 2 bulan yang lalu, aku memutuskan untuk menghilang dari pandangan Teguh dan Tania. Aku mengganti nomor ponsel dan menutup akun facebook dan plurk-ku. Tania dan Teguh sempat meminta maaf kepadaku waktu aku masih berada di RSCM Jakarta. Lalu aku dibawa oleh kedua orang tuaku ke luar negeri tanpa meninggalkan kabar berita untuk mereka. Waktu aku mengirimkan email itu kepada Tania, aku mengecek kotak masuk diemailku, lalu mataku tertuju pada sebuah email yang dikirimkan oleh Teguh, isinya begini:

Dear Sarah,

Yang masih mengisi relung hati

Sejauh apapun kau pergi

Dengan siapapun kau berhubungan

Bila kamu takdirku, takkan lari kemana jua

Hati yang meringis,

Teguh Abdillah

#Aku disini selalu mendoakan kesembuhanmu, sayang ini masih untuk kamu.

Air mataku menetes membacanya, mengapa kisah cintaku serumit ini? Mengapa aku mengenal Teguh juga Tania? Mengenal Teguh telah memakan sebagian hidupku hanya untuk memikirkannya, membuat kerja otakku harus bekerja lebih keras untuk berusaha melupakannya. Mengenal Tania, membuat aku serasa berada dalam kubangan dosa yang paling dalam, seakan-akan aku telah mengukir kisah cinta terlarang. Lalu aku teringat akan kejadian beberapa tahun lalu, ketika masih sekolah, saat jam pelajaran kosong berlangsung, murid-murid didalam kelas ada yang sibuk bercerita tentang sinetron yang baru mereka tonton tadi malam, ada yang sibuk membaca komik dan novel, namun pada waktu itu aku hanya diam sendiri duduk dikelas, lalu aku menyanyi didalam hati, dan aku terkejut nyanyianku didalam hati itu dinyanyikan oleh Teguh dengan suara nyaring, lirik yang kami nyanyikanpun sama. Lalu aku mengganti lagu yang ku nyanyikan tadi dengan lagu yang lain, masih ku nyanyikan didalam hati, kemudian Teguh kembali menyanyikan lagu yang sama, dengan lirik yang sama, dengan suara yang dapat didengar oleh siapa saja, namun tidak ada yang tahu, kecuali Allah, bahwa dalam waktu yang bersamaan, kami telah melantunkan dua lagu yang sama. Mungkinkah ini kebetulan? Atau kami memang ditakdirkan oleh Tuhan?

“Tok..tok..tok..” sesorang mengetuk pintu kamar seraya memanggil namaku, aku tersadar dari lamunanku. “Masuk!” kataku. “Ini obatnya diminum dulu Non Sarah!” kata seorang perawat yang secara khusus dibawakan oleh kedua orang tuaku untuk merawatku dirumah. Meski sibuk luar biasa, kasih mereka memang tiada berbatas untukku. Setelah meminum obat aku merasa mengantuk dan ingin tidur. Seraya menutup mata, aku memohon petunjuk kepada Tuhan tentang jodohku. Lalu Teguh hadir didalam mimpiku. Sekali lagi, aku terhenyak.

—SELESAI—

Real created by: Widya Asnita

Yang Mereka Sebut sebagai Melati

Standar

Sore itu aku sedang duduk diruang tunggu. Pemberangkatanku ditunda selama 50 menit. Sambil menghirup susu coklat panas instan yang kubeli di kafe tadi, aku tetap sabar menunggu 50 menit kedepan. Kulihat seorang ibu yang sedang mengawasi ketiga anaknya yang sedang bermain. 2 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Kuperhatikan dengan saksama raut wajah lucu dari ketiga anak tersebut. mungkin umurnya sekitar 10, 7, dan 5 tahun. Anak laki-laki yang sepertinya kakak dari 2 anak perempuan itu terlihat sedang berebutan es krim dengan salah satu adiknya. Melihat perlakuan sang kakak seperti itu, si ibu malah memerintahkan sang adik untuk menyerahkan es krim tersebut kepada kakaknya. Tak ku habis pikir dengan pikiran sang ibu. Biasanya seorang ibu selalu menyuruh seorang kakak yang mengalah kepada adiknya, sedangkan yang kulihat barusan ini adalah sebaliknya? Kenapa? Apakah karena anak laki-laki itu adalah anak kesayangan sang ibu karena hanya dia anak laki-laki satu-satunya yang dia  miliki? Ah, entahlah.. yang jelas kejadian itu mengingatkan aku pada masa laluku.

@@@

                Kata orang, dunia adalah panggung sandiwara atau komedi bagi mereka yang melakukannya. Tapi bagiku, dunia adalah tragedi karena aku merasakannya, merasakan pahitnya kehidupan. Kawan, aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Sejak kecil aku hanya mengenal ibuku. Tak pernah aku mengenal tentang ayahku. Kata ibu, ayahku kawin lagi dan meninggalkan kami saat aku berusia 2 tahun, kakakku berusia 5 tahun, dan adikku yang berusia….ah, dia masih dalam kandungan. Ayah? Aku tak pernah menganggap aku punya Ayah!

Kami hidup secara pas-pasan. Gaji ibu sebagai pegawai negeri pada waktu itu sangat pas-pasan. Tidak ada yang cukup untuk ditabung. Setiap awal bulan, ibu selalu menyuruhku untuk membeli keperluan dapur selama 1 bulan agar kami tidak kelaparan. Pagi-pagi sekali aku harus nangkring dipinggiran sungai tempat perahu-perahu orang yang berjualan ikan lewat, kalau sampai kesiangan maka aku akan menjadi bulan-bulanan oleh abangku karena tak ada ikan yang ku dapat. Sesampainya di rumah, sebelum abangku itu bangun, makanan sudah harus selesai aku masak. Untuk memasak aku harus meniup tungku ke bara api. Kalau aku lagi apes, kayu yang aku dapat adalah dalam keadaan basah sehingga sulit untuk membuat api menyala. Pernah pada suatu hari aku terlambat memasak,karena kayunya basah, maka beras yang ada didalam panci diacak-acak oleh abangku. Punggungku ditendang, dan dilempar dengan parang tumpul. Apa yang dilakukan ibu? Ia hanya diam dan terpaku. Kemana aku harus mengadu? Karena pada waktu itu Komisi / Lembaga Perlindungan Anak belum didirikan. Adakah Tuhan adil untukku? Tahu apa aku tentang Tuhan Maha Adil karena pada waktu itu usiaku hanyalah 7 tahun. Selain tak pernah mendapatkan peluk hangat dari seorang Ayah, aku juga tak dapat merasakan belaian hangat kasih sayang seorang ibu.

Hari demi hari ku lewati. Di usiaku yang ke-19 tahun dan sudah lulus SMEA, aku tidak diijinkan oleh ibu untuk melanjutkan sekolah. Aku diminta untuk segera menikah karena pada waktu itu telah ada seorang pria yang lamarannya diterima oleh ibu.  Aku bisa apa, Kawan? Aku terpaksa menuruti keinginan ibu. Dan hanya pada waktu itulah untuk pertama kalinya aku melihat dia, dia yang meninggalkan kami, kawin lagi, yang sekarang menjadi wali dalam pernikahan ini. Aku hanya diam dan tertunduk lesu, menyadari kenyataan, bahwasanya tak pernah ada bekas antara anak dan orang tua.

Laki-laki pilihan ibu untuk menjadi suamiku ini memang tidak salah, dari rupa dan harta tidak ada minusnya buatku. Mungkin benar kata orang, cinta dapat tumbuh dan berkembang dengan seiringnya waktu berjalan. Hingga 2 buah hati yang Allah titipkan kepada kami, tumbuh besar dan berkembang, laki-laki dan perempuan.

Kawan, kukira penderitaanku telah cukup sampai disini. Menjelang 6 tahun usia pernikahan kami, badai besar menerpa dan tak dapat kutangkis. Aku meminta cerai dari suamiku dengan berbagai alasan. Dapatkah kau mempertahankan sebuah hubungan yang didalamnya banyak yang mencela dan mengadu domba? Aku manusia biasa, imanku naik turun, rumah tanggaku tak dapat ku pertahankan. Haruskah aku mempertahankan dengan seseorang yang tidak berusaha mempertahankannya juga? Dapatkah kau mempertahankan ikatan suci yang didalamnya terdapat kekerasan dalam rumah tangga?

Edwan, anak  laki-lakiku berhasil aku bawa, sedangkan Rena direbut paksa oleh mertuaku waktu itu. Anak dia bagi. Tapi tidak dengan harta. Aku meninggalkan rumah itu hanya dengan membawa sisa-sisa pakaianku. Jangan kau harap emas, sendok satupun tidak. Dan akupun tak mengharapkannya. Aku kembali kerumah ibuku. Membuka hari  baru. Membesarkan buah hatiku dengan jerih payahku sendiri, karena sebiji beraspun mantan suamuiku tak pernah menafkahi anakku, Edwan.

Masih ingat dengan abangku, Kawan? Ya, namanya Willy, dia yang dulu sering menghukum, menghakimi, dan menyiksa aku tanpa belas kasih. Dengan alasan bahwa rumahnya digadaikan ke Bank, maka dia sekeluarga beserta isteri dan kedua anaknya juga pindah ke rumah ibu. Jadilah tekanan batin dengan sendirinya perlahan menyiksaku. Entah mengapa, untuk memandang wajahnya saja aku gemetaran. Maka setelah uangku terkumpul dan cukup untuk menyewa sebuah rumah selama beberapa bulan. Aku memutuskan untuk pindah. Apapun aku lakukan untuk mencukupi kebutuhan kami berdua, dari berjualan gorengan sampai menjajakan baju secara kredit dari satu rumah ke rumah tetangga lainnya.

2 tahun telah berlalu pasca perceraian dengan suamiku. 2 tahun itu pula cercaan untuk seorang janda melanda hari-hariku. Status janda dimasyarakat kami seperti status seorang tunasusila. Memangnya apa salah dan dosa dari seorang janda? Apakah karena mereka takut suaminya aku goda? Hahah.. Padahal jujur, Kawan, tak sedikit pria yang datang untuk melamar dan memintaku untuk menjadi isterinya. Namun aku menolaknya karena aku bertekad untuk mendidik dan membesarkan anakku sendiri sampai dia berhasil dan meraih kesuksesan. Aku ingin menunjukkan kepada Ayah, Ibu, Kakak, mantan suamiku, dan kepada dunia, bahwa aku pasti bisa. Tak henti-hentinya kupanjatkan do’a siang dan malam untuk memohon keadilan dari-Nya. Aku selalu berusaha berpikir positif kepada-Nya, aku percaya tak ada satupun yang luput dari pengawasan-Nya. Dia Maha Adil. Dia Maha Kasih. Mungkin Dia punya cara-Nya sendiri menyayangi hamba-Nya.

@@@

 “Maaf, Bu.. Apa pesawat yang ibu tumpangi berangkat ke arah Jogja?” Tanya seorang wanita yang menyadarkan aku dari lamunan panjangku. “Oh, iya.. kamu mau ke sana juga?” tanyaku balik kepada wanita itu, wanita yang sebenarnya adalah seorang ibu yang tadi ku perhatikan tingkahnya yang membela sang kakak dibanding sang adik. “Iya, saya ke sana juga, saya cuma mau mengingatkan bahwa sebentar lagi kita harus masuk kedalam pesawat, maaf, saya perhatikan dari tadi Ibu melamun saja..” Aku tersenyum mendengarnya. “Iya, ibu sedang bahagia, anak ibu lusa akan menjalani wisuda, dia lulus dengan predikat Cumlaude dan akan menjadi seorang dokter, Insya Allah.. Dia juga sudah direkrut untuk menjadi dokter tetap disalah satu rumah sakit swasta di Jogja.” Ceritaku singkat. “Wah, selamat ya, Bu.. Ibu berhasil menghantarkan anak Ibu menuju gerbang kesuksesan” Sambungnya lagi. “Aamiin..” aku tersenyum lagi dan hanya bisa mengamini perkataannya. Jauh didasar hatiku, sungguh hanya Tuhan yang tahu bagaimana kerasnya perjuangan hidupku. “Saya pernah membaca biografi singkat Bu Melati disalah satu majalah. Saya salut dan bangga sama Ibu, berjuang sendiri membesarkan anak dan sukses menjadi pengusaha konveksi, dan ternyata sekarang anak ibu akan menjadi seorang dokter. Semoga nanti saya juga bisa menghantarkan anak-anak saya ke gerbang kesuksesan.” Sambungnya lagi dan pernyataannya itu membuatku terkejut, lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum dan berucap syukur kepada sang Ilahi didalam hati. “Amin, saya turut mendoakan ya Nak. Didik anakmu dengan kasih sayang yang tulus dan jangan pilih kasih.” Pesanku kepadanya. “Kamu juga ya, Sayang.. Rajin belajar dan jangan bandel, buat ibumu dan ayahmu bangga pada kamu, Jagoan.” Kataku kepada si sulung sambil membelai lembut kepalanya dan menatap penuh kasih sayang kepada adik-adiknya. “Ini Ibu kasih coklat, bagi rata dengan adik-adikmu, Ya!” Aku memberikan sebatang coklat kepada mereka sebelum akhirnya memasuki pesawat.

@@@

Subuh ini, sujud diatas sajadahku lebih lama dari biasanya. Aku diam didalam keheningan. Merasakan lembutnya kasih sayang sang Pencipta. Mensyukuri semua nikmat dan anugerah dari-Nya. Tak lupa ku selipkan do’a untuk ayahku yang sudah kembali kepada-Nya dan untuk ibuku agar selalu diberi kesehatan.

Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi aku dan Edwan. Edwan menitikkan air mata ketika kami selesai shalat Subuh berjamaah. Dia memelukku erat lalu mencium kedua tanganku. Seketika pipiku basah oleh tetesan-tetesan hangat airmataku. “Bu, aku akan mengabdikan profesiku ditempat kelahiranku. Tempat dimana engkau membesarkanku. Aku tak mau disini. Aku ingin bersamamu. Terimakasih telah mendidik aku hingga menjadi seperti ini.” Kata Edwan membuka suara. “Terimakasih juga, Sayang.. Tanpa kamu semangat Ibu takkan pernah hidup.” Balasku sambil menggenggam tangannya. “Oya, nenek titip salam dan meminta maaf karena beliau tak bisa hadir ke acara kamu, itu lo anaknya Om Willy-sepupu kamu itu, mau melahirkan anak pertamanya.” Kataku lagi. “Hmm.. Aku tahu nih, Ibu mancing aku biar aku cepat nikah, ya? Ibu juga pengen nimang cucu, kan? Hahahaaa..” Derai tawanya mencairkan suasana subuh yang tadi dingin sekarang berubah menjadi hangat.

SELESAI

Sedikit kata dari sang Penulis:

Cerita diatas memang diilhami dari kisah nyata, walau tak sepenuhnya seperti yang digambarkan diatas. Namun terlepas dari fakta/ fiktif cerita tersebut, disini aku hanya ingin menggambarkan sebuah kisah bahwa “Aku” dalam cerita diatas adalah sosok yang luar biasa. Meski ujian dalam hidupnya datang silih berganti, dia tetap beriman kepada Tuhan-Nya. Meski ayahnya tak pernah menafkahinya, namun dalam munajatnya dia kirimkan doa untuk sang ayah yang telah tiada. Meski sang ibu pilih kasih, dia tetap sabar dan tetap menghormati. Meski single parent dia mampu mendidik dan membesarkan anaknya, dan berhasil menunjukkan pada dunia, bahwa “Aku bisa!”

“Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis tapi tegar, bagi mereka yang disakiti hatinya tapi lapang, bagi mereka yang lelah tapi sabar, dan bagi mereka yang selalu bersyukur meski kekurangan. Karena mereka inilah yang dimuliakan Allah disisi-Nya. Cobaan ada bukan sekedar untuk mengujimu, Tuhan sudah tahu kemampuanmu, lebih dari itu, cobaan diberikan agar kamu perlu belajar 1 hal: IMAN.”

*terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca, semoga terinspirasi dan termotivasi untuk lebih giat belajar dan semangat menjalani hidup.

Real created by: Widya Asnita

Tuhan Tak Pernah Keliru

Standar

Pagi itu bak petir menggelegar disiang bolong. Aku dikejutkan kenyataan menyakitkan. Aku divonis mengidap kanker ganas oleh dokter. Saat itu juga aku tak bisa berbuat apa-apa. Ingin menganga saja aku susah. Suasana hatiku begitu galau. Tubuhku gemetar, mukaku pucat. Berulang kali aku menampar pipi kanan dan kiriku, berharap tak ada sakit yang ku rasa dan ini hanya sebuah mimpi. Tapi ternyata sakit itu lebih, sampai menusuk ke ulu hati.
Aku menangis sambil berlalu meninggalkan ruangan dokter yang biadab itu. Berani-beraninya dia memvonis bahwa aku mengidap kanker. Padahal selama ini aku baik-baik saja. Tak ada sakit yang ku rasa. Hanya saja aku hobi mimisan, sakit kepala, dan pingsan tiba-tiba. Itu biasa bagiku. Aku hanya sering mengkonsumsi vitamin tambah darah, karena aku mengidap anemia sejak aku kecil, tapi kenapa dokter itu dengan entengnya menyuratkan bahwa aku mengidap kanker darah?

@@@

“Satria, aku tak dapat meneruskan hubungan ini, kau terlalu miskin untukku. Aku ingin mencari laki-laki yang mapan, tidak seperti kau. Kuliahmu saja belum kelar. Umurku sudah 22, apa jadinya bila aku terus menunggumu. Selamat tinggal. Carilah perempuan lain yang lebih pantas untukmu!”
Begitulah isi surat yang ku tuliskan dalam bentuk Microsoft Power Point didalam flashdisk yang ku berikan sebagai kado ulangtahunnya hari itu. Tak ada canda tawa, peluk mesra yang aku berikan padanya. Hanya sekotak brownies vanilla kesukaanya juga kado tadi, plus sebuah muka tanpa ekpresi yang ku sodorkan kepadanya. Dia hanya bertanya-tanya, ada apa denganku. Sambil memelukku dia berbisik, “My dear, tunggu aku 2 tahun lagi!” Kehangatan peluknya ku balas dengan sebuah tamparan tipis dipipi tirus kanannya. “Kado itu jawaban atas hubungan kita dan penantianku selama ini.” Ucapku dengan suara bergetar pada laki-laki yang ku cintai selama 6 tahun hingga saat ini.

@@@

“Nayla-my dear, ada apa dengan mu? Apapun kondisimu aku tetap mencintaimu. Kau cinta sejatiku setelah Allah dan rasul-Nya serta keluarga ku.” Sebuah pesan pendek dia kirimkan kepada ku setelah aku tak mau mengangkat telepon darinya yang berkali-kali. Aku tak sanggup membendung air mataku ketika aku membacanya. Sekali lagi, aku harus merasakan sakit yang luar biasa. Bukan hanya karena penyakit sialan ini, tetapi juga karena laki-laki yang ku cintai dan tulus mencintaiku harus menerima kenyataan pahit seperti ini. Aku tak mau dia mati-matian mempertahankan hubungan yang akhirnya juga kandas. Aku akan pergi meninggalkannya. Pergi dan takkan kembali. Oh Tuhan, inikah jalan-Mu untukku? Saat aku mengerti bagaimana indahnya dicintai dan mencintai laki-laki yang begitu berarti untukku?

@@@

Jumat siang itu aku mengurung diri didalam kamar, papah masih belum pulang dari Masjid lepas sholat Jumat. Aku merasa begitu lemah dan tak sanggup lagi, tapi dengan susah payah aku berusaha menuliskan sepucuk surat untuk papah dan juga Satria.
–Surat untuk Papah–

“Dear Papah…
Ayah sekaligus ibuku tercinta

Terimakasih untuk selama ini. Untuk semuanya.
Kasih sayangmu tak tertandingi
Terimakasih telah mendidik aku hingga aku bisa sebesar ini
Jerih payahmu tak pernah dapat ku tebus
Terimakasih telah berperan menjadi ibu
Aku belajar banyak darimu
Maafkan aku, Pah
Bila selama ini aku menyusahkanmu
Sedikit banyaknya aku pernah melawan kata-katamu
Maafkan aku, Pah
Aku belum bisa menjadi seseorang yang dapat kau banggakan
Pah, hanya satu pintaku, nanti ketika Satria bertanya, mohon jawab dengan jujur
Apapun yang terjadi dimasa lalu Papah, rasa sayangku takkan pernah pudar.”

Kasih Cinta,
Nayla Hayati”

–Surat untuk Satria–

“Dear Satria,
My Dear…

Waktu itu aku merasa semua berpihak pada kita
Tuhan, keluarga, sahabat, bahkan mungkin dunia merestui hubungan kita
Aku bangga menjadi bagian dari hidupmu
Kau tak sempurna, tapi kau sempurnakan aku
Kau tak selalu menjadi yang nomor satu, tapi kau selalu menjadi pahlawan disetiap saatku
Kau bukan yang pertama, tapi ku pastikan kau adalah yang terakhir mengisi relung hatiku
Satria, kau kira aku tidak tahu bahwa kau mengidap kelainan ginjal?
Tahukah kamu, aku mengambil semua hasil tes kesehatanmu?
Tahukah kamu bahwa syukur Alhamdulillah ginjalku 85% cocok dengan ginjalmu?
Dan tahukah kamu, bahwa kau ternyata kakak kandungku?
Jangan tanya aku tentang semua ini, tanyakan kepada papah!
Tapi kini aku mengerti bahwa Tuhan itu tak pernah keliru.
Satria, kita memang ditakdirkan untuk tidak bersama
Tapi ijinkanlah aku bersemayam didalam tubuhmu. Ikut mengisi hari-harimu
Pakailah ginjalku. Temani ayah yang sudah renta. Agar aku tenang kembali keharibaan-Nya.
Terimakasih untuk segalanya, maafkan atas perbuatanku beberapa waktu yang lalu

Senyum Sayang,
Nayla Hayati”

Ku lipat, ku amplopkan, dan ku tuliskan masing-masing surat itu untuk papah dan Satria, lalu ku letakkan disampingku. Ku rebahkan badanku diatas kasur sambil memandang hamparan langit diluar jendela. Diantara bayang-bayang semu aku lihat senyum ibu yang selama ini hanya ku lihat didalam foto. Dia meraih tanganku, mendekapku, lalu mengajakku terbang menggapai awan.
Tuhan, inikah jalanku?

-tamat-

Real created by: Widya Asnita