Category Archives: Pena Diary

Aku Tidak Bisa Mencintai Dia Biasa-Biasa Saja

Standar

“Cintailah seadanya”, kata pepatah bijak suatu hari.
Tapi aku tidak bisa berpura-pura mencintai dia seadanya saja.
Aku tidak bisa berbohong bahwa mencintai dia itu biasa-biasa saja.
Sekalipun ia jarang memberi perhatian, aku selalu sabar untuk ia yang selalu besar di dalam hati kecil ini.

Mataku tak selalu melihatnya, telingaku tak selalu mendengar suaranya dan lenganku belum sanggup memeluknya, maka caraku menjaganya ialah melalui do’a, layaknya bulan yang menjaga malam untuk tetap terang.

Cintaku tidak buta, meski aku jarang mendapat perhatian darinya, aku tidak butuh perhatian dari hati yang lain. Semoga dengan caraku menjaga hatiku sepenuhnya untuknya, ia juga menjaga hatinya untukku. Karena aku percaya, bila kita menanam kebaikan, kita juga akan menuai kebaikan, dan berlaku sebaliknya.

Aku bersyukur dipertemukan dengannya dan bersyukur atas rasa cinta yang Allah tanam di hati ini. Ia bahagiaku dan aku bahagia memperjuangkannya. Pasrah kepada Allah dan berharap ridha-Nya, begitulah caraku mencintainya.

Sekali lagi, aku tidak bisa mencintai dia biasa-biasa saja.

(Masih) Halaman Rindu

Standar

Rindu tidak hanya soal kamu

Aku bisa saja memaksa kamu datang untuk menemui aku, kemudian kita bertemu

Tapi rindu tidak hanya sampai di situ

Rindu itu…

Pada semua yang ada pada dirimu

Yang hilang satu per satu dan kini semua abu-abu

Kamu samar, cintamu samar-samar, hadirmu samar-samar hingga akhirnya terbang bebas, benar-benar bebas hingga aku tak dapat lagi menggapaimu.

Halaman Rindu

Standar

Halaman itu bernama rindu, ketika kamu tak kunjung datang saat ku tunggu-tunggu.

Halaman itu bernama kenangan, ketika kau memutuskan untuk pergi dan tak pulang-pulang.

Kini halaman itu menjadi buku. Tebal, berisi rindu dan kenangan.

Kini hati ini menjadi batu. Kebal, terhadap kamu dan pesakitan.

Karena proposal, mataku telah terbiasa tidur terlalu larut malam.

Karena kau tinggal, hatiku telah terbiasa tanpa kamu dan perhatian.

Antara Bulan yang Menemaniku ke Samarinda, Kamu, dan Aku

Standar

Bulan tak terlihat sejauh aku memandang langit di separuh sisa malam yang hampir masuk subuh.
Ia bukan tertutup awan. Bukan!
Ia tertutup hutan di sepanjang jalan yang ku lalui sudah lebih dari dua belas jam waktu aku mengintip bulan dari sela-sela gorden yang menutupi kaca bus yang membawaku dari Banjarmasin ke Samarinda ini.
Aku menarik napas panjang dan mencoba memejamkan mata untuk mengolah mimpi menjadi bunga yang di dalamnya penuh kumbang yaitu kamu.
Tapi aku tak ma(mp)u.
Di sampingku, di bangku nomor 4 bus ini, yang jaraknya tidak lebih dari 75 sentimeter dari bangku nomor 5 yang ku duduki, seorang pria juga kesusahan untuk dapat terlelap.
Barangkali usianya 5 sampai 7 tahun lebih tua dari usiaku.
Tingginya mungkin 10 senti lebih tinggi dari tinggi badanku.
Ia berkumis, tapi tipis. Hidungnya mancung, dan aku suka melihat wajahnya dari samping.
Kalau tadi dia juga tak dapat terlelap, kali ini ia berusaha untuk meninggalkan batas antara dunia nyata dan dunia mimpi.
Ia berulangkali memutar badan untuk mencari posisi tidur yang lebih nyaman.
Mataku tak berhenti lepas memperhatikannya.
Semakin ku perhatikan, ia semakin memalingkan wajahnya ke arah jarum jam 9 dimana aku berada di arah jarum jam 3 dari posisinya.
Aku tersenyum kecil dan tingkahku semakin menjadi-jadi. Aku tak mau berhenti memandang dia yang barangkali hanya sekali ini aku bisa bertemu pada pria tampan yang tepat di sampingku.
Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru, nyaris semua penumpang sudah berada di alam mimpi, hanya supir bus, kenek bus, aku, dan dia yang masih terjaga.
Aku lelah sendiri dengan permainanku, seperti halnya aku yang lelah terus menunggu kamu.
Aku diam dan berhenti mengganggu dia dengan diam-diam. Tapi mataku tak jua dapat terpejam. Aku kembali menatap jalan di depan. Sementara di pelupuk mataku kamu terus bergantungan, dan di telingaku lagu kesukaanmu terus ku mainkan.
Aku selalu seperti ini, selalu kesusahan tidur bila sedang dalam perjalanan panjang dan lebih tertarik memperhatikan jalan di depan.
Dan aku selalu seperti ini, selalu kesusahan melupakanmu dan lebih asyik mengingat kenangan tentang kamu di hidupku.

Seperti halnya bulan yang bukan tertutup awan.
Aku juga bukan sedang jatuh cinta. Bukan!
Barangkali ini yang namanya hati tidak pernah tidak untuk tidak selingkuh.
Tapi aku tidak semudah itu jatuh cinta apalagi kepada orang yang aku tak tahu menahu dia siapa.
Aku hanya mudah tertarik pada pandangan pertama. Itu saja!
Tapi apa pedulimu?
Apa untungnya aku setia menunggumu yang tidak menjanjikan apa-apa?
Aku jatuh cintapun itu bukan urusanmu!
Itu hakku!
Aku merasa aku tak lagi berdosa bila aku jatuh cinta lagi karena kamu sudah terlampau jauh pergi.
Tapi hatiku seperti bulan sekarang ini, tinggal separuh.
Bila separuh bulan karena tertutup awan atau hutan, maka separuh hatiku tertutup kenangan dan penyesalan.
Aku tahu aku salah!
Mengabaikan hatimu hingga akhirnya patah.
Aku ingin kamu kembali, mengembalikan separuh hatiku ini.
Kemudian ku obati dan ku rawat hatimu agar tak lagi patah agar aku dapat kembali bertumpu kepadamu.
Kembali tersenyum dan tertawa lepas karena hanya kepadamu aku selalu merasa nyaman.
Tidak pada pria di sampingku, atau pria yang ku ceritakan padamu dulu itu.

Aku kembali menilik bulan dari jendela bus.
Tadi di sebelah kanan.
Namun sekarang di sebelah kiri.
Barangkali kita juga seperti ini.
Kamu di kiri,
Aku dikanan.
Kita berbeda prinsip dalam hal keyakinan.
Kamu pada jalanmu,
Aku pada jalanku.
Sepertinya bulan saja tak cukup mampu menerangi bumi, harus digantikan oleh matahari.
Begitu juga aku. Cinta saja tak cukup melandasi sebuah hubungan, aku menginginkan seorang imam.
Tapi inginku kita tetap menjadi teman
Dan perpisahan ini tidak demikian menyakitkan.

– Perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, Sabtu, 03 Maret 2012, 02.00 am.

Ansari Saleh, We Are Through. Yeah, It’s Over! :p>

Standar

Dear diary..
25 Februari 2012

Hmph, lucu juga kalau seandainya blog ini dijadikan diary pribadi, tapi kali ini saya benar-benar hanya ingin bercerita.

Hari ini, berakhir sudah saya (kami) magang di Rumah Sakit Umum Daerah Ansari Saleh (baca: Sarseh). Selama 3 minggu, waktu merangkak dari hari ke hari hingga akhirnya semua terlalui. Aku yakin, apapun masalahmu, seberat apapun itu pasti akan terlewati. Tapi kita tak tahu bagaimana kita melewatinya, ya kan?

Selalu ada kesan disetiap pertemuan. Dan sudah janji Tuhan disetiap pertemuan selalu ada perpisahan. Banyak hal yang aku pelajari dan aku dapati, mulai dari ilmu, sampai karakter orang-orang. Banyak juga hal-hal yang aku pelajari secara diam-diam. Hehe..

Oh ya, aku pengen mengabadikan nama teman-temanku yang satu tempat magang. Dimulai dari Kak Surya, lebih lengkapnya Surya Aditya. Cuma dia loh yang berjenis kelamin laki-laki diantara kami bersembilan. Paling cantik, deh… (eh? *ditoyor* haha.. ).Si penyuka kolang kaling ini partner saya selama magang 3 minggu. Barangkali karena abjad huruf awal nama kami berdekatan, makanya selalu satu depo. Berkat magang dengan beliau (ceileh tua banget kesannya, piiiss kakk) saya jadi sedikit mengerti tentang dunia persepakbolaan. Ya setidaknya mengerti, klub MU dan Juventus itu beda liga. Saya pikir mah sama aja, kan sama-sama bule. (Hahahaa.. *dikeplak*). Jadi lebih tahu juga tentang JKT48 dan AKB48. Barangkali beberapa tahun lagi bayang-bayang kami terwujud tentang BJM48 atau AKF48 (Hahaha.. ilmu apaan ini? *dipelototi dosen dosen*). Dan kami menggemari buah langsat dalam ukuran mini dan..dada ayam. Haha..

Nah, ada juga teman saya yang namanya Reysa. Hai Raisaaa.. (Eh, itu kan Raisa yang penyanyi. Mhihiii…) Teman saya yang satu ini nama lengkapnya Reysa Royani Nuramaliqa (bagus, bukan?) Hehee.. By the way, selama magang kami berdua pernah terbentur insiden kecil yang untungnya tidak sempat menyebabkan patah tulang dan gegar otak. Hahaa.. Bukan masalah magang kok, masalah pribadi. Tapi sudah baikan kok, tenang aja. (Ya kan, Rey? Hehe..)

Ada juga nih ya, temen saya yang namanya Nurianti. Tapi dia ngakunya sih nama sapaannya Lyra (Oke, terserah loe deh :p>), tapi kalo saya manggil dia sih biasanya simpel aja. KUDIS. Hehee.. piiss Diis, itu panggilan sayang kok *ngeles* haha.. nah, dia ini biasanya satu depo melulu dengan teman saya yang namanya Mariyatul Hasanah atau lebih akrab dipanggil Sanah, atau bisa juga Aya. Etapi bisa juga Atul. Alah, banyak amat nama panggilan lu yak? Hahaa.. Pis!

Ada juga Ijatul Yazidah. Teman saya yang satu ini sudah berumah tangga dan punya anak satu, loh. Kerja di Apotek juga dan punya bisnis online. Keren, yah? Hihii.. biasanya dia satu depo dengan seorang teman lagi yang namanya Fauziyah. Lebih tepatnya, Hj. Fauziyah. Ya, tahun lalu dia sudah mendapat kesempatan dari Allah untuk menunaikan ibadah wajib (bagi yang mampu)dari rukun islam kelima. :’) Beruntung sekali.. Aku kapan ya? Hiks.. Semoga aku dan kamu yang membaca ini juga punya kesempatan dan kemampuan untuk pergi kesana ya. Aamiiin.

Ada lagi nih, namanya Septia Rini Wulan Putri. Bagus amat orang tuanya ngasih nama. Tapi dia lebih akrab disapa dengan Septi. Kalo dia biasanya sering magang sendiri. Karena dia juga sambil kerja dan jam kerjanya sore, maka ketika kami ditugaskan untuk dinas sore di Rumah Sakit, dia meminta untuk dinas pagi walau sendiri. Hmph, salut deh..

Nah, yang terakhir yang saya kisahkan ini namanya Siti Imah. Lebih akrab disapa dengan (so)imah. Piiiss, Mahh.. jangan marah. Hehee.. Disini saya mau sedikit bercerita. Saya kami agak sedikit kurang lebih daripada HERAN sama sikap dia yang satu ini. Entah polos or something else lah, dia selalu mengenakan masker ketika datang ke tempat magang, selama magang, dan dalam perjalanan pulang menuju tempat parkiran. Hal ini berlangsung berapa hari ya? Kurang tau deh, ya pokoknya sempat jadi pertanyaan bagi sebagian kalangan. Nah, kalau di rumah dia pakek juga atau gak, saya mana tau lah itu, pokoknya gak pernah lepas sejauh mata memandang dari masker hijau di separuh wajahnya. Menurut seorang teman yang saya sembunyikan identitasnya (hahaaa..), cara mengenakan maskernya itu sudah profesional layaknya seorang dokter. Dan menurut investigasi kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit, dia mengidap sakit dibagian belakang yang menyebabkan panas sehingga salah satu cara mengatasinya adalah dengan mengenakan masker. (Teori macam apa ini?). Sedangkan menurut investigasi oleh seorang teman saya yang juga saya sembunyikan identitasnya (apalah gue ini), mengenakan masker karena debu (lebih masuk akal sih). Sedangkan menurut investigasi saya dia mengidap batuk atau flu gitu lah. Tapi batuknya muncul kalau ditanya aja. Misalnya gini: “Kenapa pAkek masker? Kamu batuk, Mah?” dia bakalan jawab iya sambil uhuk-uhuk. Ya begitu sih menurut pengamatan saya. Hehee.. Barangkali lebih tepatnya, dia pengen menjunjung tinggi kesehatan. Ya okelah. Terserah deh.. hehe.. Ini kenapa jadi membahas maskernya (so)imah panjang lebar sih, wid -______-“

Ya, kurang lebih begitulah yang bisa saya sampaikan. Untuk kisah para staf-stafnya, biar saya simpan dulu. Oh ya, yang agak sedikit bikin gugup adalah pas hari kemarin. Kami diuji lewat ujian tertulis. Jadi kami diberi semacam soal gitu sebanyak 5 pertanyaan. Untung soalnya masih sanggup kami telan bulat-bulat, tak kirain soal macam apaaa gitu.. Fiuuhh *mengelap keringat dan menghembuskan nafas*.
Hmph, sayangnya kami tak mengabadikan sosok kami bersembilan dalam bentuk foto. Mungkin karena kami orangnya “Just the way we are” kali yak. Apa adanya gitu, hehe.. *dikeplak segerombolan Sambang Lihum yang sering foto-foto* Cuma foto ini yang bisa saya kasih lihat. Tadinya foto ini mau saya tunjukkan ke teman-teman yang belum sempat lihat hadiah kenang-kenangan sebagai tanda terimakasih dari kami kepada pihak Rumah Sakit, tapi lupa *toyor self*.

Jam Kenangan

Ngomong-ngomong apa kabar ya teman-teman saya yang magang di RS Jiwa Sambang Lihum dan RSUD Ulin? Besok hari Minggu, ada pembekalan lagi sebelum magang di Puskesmas untuk hari senin nanti dan untuk kurang lebih 3 minggu kedepan. Jadi bakal ketemu dong, insya Allah. Hmph, pasti seru nih ceritanya. Saya tunggu. See you, Guys. Mmuuaahh.. Hahaa..

PS: Ini catatan di blog yang paling nyeleneh yang pertama kali saya buat. 😀

Kepada Seseorang yang Rindunya Rinduku Rindukan

Standar

Kepada seorang yang aku rindu…

Kembali, aku memandang keluar jendela untuk memancing inspirasi
Setidaknya untuk memulai kata-kata
Seperti yang kau tahu, aku selalu sulit untuk memulai darimana aku harus bercerita bila aku sedang dirundung resah yang hanya kepadamu aku nyaman berbagi kisah. Hanya kepadamu
Seperti cerita kita, cerita antara aku dan kau
Darimana ia berawal?
Bagaimana kita bisa menjadi dekat?
Aku sulit menjelaskan

Kembali, aku membuka kotak memori di otakku yang barangkali berkarat
Yang didalamnya pasti sudah usang karena aku tipe orang yang susah mengingat
Aku punyak banyak kotak memori yang kecil yang ku kumpulkan dalam satu kotak memori yang besar
Kotak memori yang kecil itu ada yang kusam, ada yang nyaris ingin aku buang jauh-jauh
Kemudian aku temukan satu kotak memori
Warnanya merah hati
Yang tidak lagi terkunci
Engselnya rusak, gemboknya patah
Aku buka kotak memori berwarna merah hati itu
Kau tahu?
Isinya semua tentang kamu
Kata otakku, itu karena aku bodoh. Aku terlalu sering memaksakan jutaan tentang kamu aku kubur didalamnya
Aku menjejalmu menjadi satu tumpukan yang kotak memori merah hati tak sanggup untuk menguncinya
Hingga engselnya rusak, gemboknya patah
Karena terlalu banyak tentang kamu
Karena kamu sederhana, mencintai kamu itu sederhana
Maka hal-hal yang sederhana selalu mengingatkan aku padamu

Kau tahu?
Setiap malam sebelum tidurku, aku bertekad untuk tidak lagi mengingatmu, merindukanmu
Tapi besok hari, bahkan ketika pagi dimana aku berhenti di perempatan lampu merah, kamu bisa saja tiba-tiba muncul
Atau ketika dua insan saling bercengkrama di atas sepeda motornya masing-masing sambil menelusuri jalan, kamu selalu berlompatan di pikiranku. Jutaan tentang kamu keluar dari kotak memori merah hati. Mungkin itu penyebab lain mengapa kotak memori merah hati tak lagi bisa dikunci. Kamu terlalu sering muncul kemudian kupaksa tenggelamkan dan kupendam, hendak ku kubur dalam-dalam
Kini aku mengalah
Aku menyayangi jutaan saraf di otakku
Agar tidak rusak hanya karena jutaan kamu berkedut di dalamnya

Aku pamit permisi dari rumah pikiranku
Kembali, aku bertamu ke rumah hatiku
Ada banyak hal disana
Ada niat, ada asa, ada cinta, juga luka yang masih basah
Aku mengetuk pintu hatiku, yang hadir hanya niat, asa, dan luka basah
Aku mencari cinta, pintaku
Kemudian hatiku meminta aku membawa kamu agar cinta mau membuka diri
Kemudian aku berlari ke otakku, ke rumah pikiranku, membawa kotak memori berwarna merah hati untuk ku hadapkan kepada cinta
Kau bodoh! Kata hatiku kepadaku. Ia marah
Yang ia inginkan bukan masa lalu, bukan bayang-bayang tentang kamu
Cinta tak jua keluar, dan sekarang luka basah itu bernanah
Asa itu hancur berkeping-keping
Hatiku marah. Ia menutup pintunya
Tapi aku bisa apa?
Aku tak sanggup lagi mengajak kamu masuk ke kehidupanku
Kamu pergi, tak tahu apakah kembali lagi
Meski kamu datang sesekali, namun kamu tidak lagi membawa hati
Kamu tidak lagi seperti dulu

Aku rindu kamu
Tidak hanya ragamu
Rinduku rindu pada rindumu yang merindukanku
Rindu pada semua sikap, perhatian, dan cinta yang dulu kamu berikan namun aku abaikan

Ya, aku tahu, aku bodoh!