Category Archives: Pena Puisi

Sebatas Layar Kaca

Standar

Ketika padang ilalang bertaburan cahaya kunang-kunang

Sementara di mataku bermandikan cahayamu

Sedetikpun tak ku izinkan apapun yang menghalangi lensa mata untuk tak membiaskan cahayamu masuk ke mataku, kemudian ku tanam bayangmu di retinaku, erat-erat

Hasrat untuk selalu berada di dekatmu begitu kuat

Kelakuanku yang tidak lazim untuk mencuri perhatianmu kian menggila

Nafsu untuk memelukmu makin menjadi-jadi

Saluran retinaku berdekatan dengan saluran hatiku, tapi bayangmu hanya terbenam di pelupuk mata, tak pernah berakhir menjadi cerita cinta

Sesaat kemudin aku terbangun, ku sadari itu semua hanyalah mimpi

Melihatmu berada di sampingku itu hanyalah fatamorgana saja

Karena sejujurnya aku paham betul, kau artis ibukota, dan kau selalu aku lihat di televisi saja

 

 

*P.S dibuat untuk mengikuti #cumanaksirunite yang diadakan oleh  @hurufkecil di twitter land

Iklan

Mawar Mati

Standar

Kamu selalu tiba-tiba datang, tiba-tiba hilang

Sekali datang hadirmu begitu menyejukkan

Sekali hilang bayangmu tak pernah lekang dimakan zaman

Aku curiga, seperti halnya aku yang pelupa, apakah kamu juga demikian adanya?

Selalu lupa membawa kembali bayang-bayang fatamorgana

Sementara aku selalu lupa bahwa aku seharusnya sudah jauh melupakanmu.

Dulu kau bilang aku adalah Mawar

Dulu kau anggap aku adalah bunga yang selalu tumbuh dihatimu

Ya, seperti halnya Mawar, aku selalu ingin mekar

Aku  selalu menunggu-nunggu kedatanganmu

Berharap kau datang untuk menyiramkan air cinta untukku

Berharap  kau datang membawa sekarung pupuk kasih sayang untuk kau berikan padaku

Tapi kau hanya jadikan aku pajangan di depan halaman lalu memamerkanku pada semua orang

Suatu hari aku melayu, kemudian aku mati

Lalu kau cabut dan kau buang aku begitu saja seolah-olah seraya bekata “Karena kau sudah mati, kau tidak indah lagi untukku”

Kau salahkan aku yang membuat aku tidak indah lagi di matamu

Memangnya bunga mana yang dapat tumbuh mekar dan indah bila hanya dibiarkan dan tanpa kau pedulikan?

Original created by: Widya Asnita

Antara Kamu dan Tuhan

Standar

“Orang kerap kali tak bernalar, tak logis dan egois,

Biar begitu maafkanlah mereka

Bila kamu baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egois.

Biar begitu, tetaplah bersikap baik

Bila kamu jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu.

Biar begitu, tetaplah jujur dan berterus terang

Bila kamu sukses, kamu akan mendapat teman-teman palsu dan teman-teman sejati.

Biar begitu, tetaplah meraih sukses

Apa yang kamu bangun bertahun-tahun mungkin akan dihancurkan orang dalam semalam.

Biar begitu tetaplah membangun

Bila kamu menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri hati dan dengki.

Biar begitu tetaplah berbahagia dan temukan kedamaian hati

Kebaikan yang kamu lakukan hari ini, mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya.

Biar begitu, tetaplah lakukan kebaikan

Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak pernah cukup.

Biar begitu tetaplah berikan pada dunia milik mu yang terbaik

Ketahuilah pada akhirnya, sesungguhnya ini semua adalah antara kamu dengan Tuhan.

Tidak pernah antara kamu dan mereka.”

 

*Tulisan diatas dikirim oleh salah satu sahabat saya melalui sms, inisialnya ‘Bau Kencur’. Itu satu-satunya kenangan yang dia berikan kepada saya selain ingatan tentang masa lalu. Semoga Allah senantiasa memberikannya perlindungan dan selalu berada dalam jalan yang benar. Aku tetap menyayangimu, Bau Kencur meski kata orang kamu banyak berubah :’)

Takkan Luntur

Standar

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Yang jiwaku ada didalam genggaman-Nya

Yang segala yang ada di jagad raya ini tunduk kepada-Nya

Tuhan Yang Maha Mulia yang bertahta disinggasana surga, Allah swt.

Shalawat dan salam teriring untuk Nabi akhir zaman, Muhammad saw.

Ya Allah, berikanlah aku keikhlasan yang tanpa batas, tanpa siapapun yang dapat mengukur bagaimana pedihnya selain diri-Mu, Zat Yang Maha Tahu

Ya Allah, karena semua adalah milik-Mu, bila saatnya tiba, jadikanlah dia sebagai syuhada di surga-Mu

Kepada Engkau Yang Maha Tahu, kepada airmata yang menjadi saksi bisu

Biarlah, kucukupkan semuanya sampai disitu

Ya Allah, sakit dan tawarnya, Engkaun yang menjanjikan-Nya

Seindah dan seburuk apapun mimpi, akan berakhir dengan istirahat panjang dan yang nyata adalah akhirat yang Engkau janjikan

Ya Allah, tak sanggup aku rasanya

Kurangkai kata untuk mewakili seluruh rasa

Harap pada-Mu takkan pernah luntur

Harap pada-Mu takkan pernah luntur

Real created by: Widya Asnita

Aku Bertahan

Standar

Malam tiada berbintang
Bersih disapu awan
Sekian menit kemudian, langit menangis
Setetes, dua tetes, lalu mengucur deras seiring tangisanku didalam hati.
Ketika hati lelah untuk mencari
Ketika mata tak sanggup lagi untuk menangis
Adakah kau mengerti, aku sendiri menanggung beban ini
Kau tahu, sesuatu bernilai baik karena kita mengenal sisi lain yang bernilai buruk
Kau tahu, ketika cinta menyapa maka luka juga bersembunyi dibaliknya
Seribu kali aku menyanyi tak jua membuatmu menari
Meski habis air mataku, tak jua membuatmu mengerti
Ini bukan soal aku terlanjur cinta
Hanya saja, ketika aku terus memohon kepada-Nya
Hati kecilku semakin yakin, kau adalah jawaban dari-Nya
Aku takkan memungut cinta yang semu
Juga takkan menunggu
Aku hanya bertahan dengan perasaanku, perasaanku yang semakin yakin terhadapmu

Real created by: Widya Asnita

Tentang Waktu dan Kamu

Standar

Waktu adalah satuan bilangan, terus berputar selama bola dunia juga berputar
Waktu bagian dari hidupku. Waktu juga yang berperan penting dalam masa depanku
Bukankah Tuhan juga bersumpah demi waktu: “Wadh Dhuhaa…”
Belajar menghargai waktu, itu salah satu hal yang sulit untukku
Tak dapat dipungkiri, waktu juga ikut berperan dalam mempertemukan aku dengan kamu, aku dengan kalian—teman-temanku
Tapi, haruskah aku menyalahkan waktu ketika waktu memisahkan kita?
Waktu telah mengantarkan aku pada titik sejauh sekarang aku berdiri
Dan aku tak pernah tahu, kapan waktuku berhenti berputar?
Yang aku tahu, waktuku takkan pernah bertambah, semenit sekalipun kecuali atas kehendak-Nya.
Setiap detik yang aku lewati, setiap detik itu juga waktuku berjalan mundur
Kalau belajar menghargai waktu adalah hal yang sulit bagiku, maka belajar melupakanmu ternyata jauh lebih sulit dari itu.
Kalau jatah waktu untuk aku hidup didunia fana ini terus berkurang, maka rasa untukmu justru tak pernah berkurang, dan kian bertambah dengan adanya keyakinan didalam hati akan perasaan ini terhadap kamu, dan keyakinan bahwa kamu adalah jawaban dari setiap do’aku
Kalau waktu saat bersama kamu tak dapatku kembalikan, maka rasa untukmu justru kembali dengan sendirinya, sekalipun aku telah berhasil menyingkirkan bayangan itu.
Kalau sekarang aku harus belajar menghargai waktu, maka aku juga harus belajar menghargai waktuku dan hidupku untuk tidak peduli lagi segala tentangmu- kamu yang tidak pernah menghargai aku dan perasaanku.
Aku takkan menyalahkan waktu, juga takkan menyalahkan kamu
Tapi jangan salahkan aku, bila nanti waktunya tiba, rasa ini tidak lagi untukmu
Karena seiringnya waktu, cinta mana yang tetap bertahan untuk seseorang yang tidak pernah memintaku untuk bertahan?

Real created by: Widya Asnita

Lebih Rumit dari Rumus Kimia

Standar

Entah sejak kapan aku mencintaimu. Yang ku rasa, selama kita bersama hingga saat ini kita terpisah, rasa aneh yang bertahun-tahun ini hanya untukmu. Tidak cukupkah bagimu?

“Teringat pengkhianatan itu teringat kamu. Kamu ingat tidak saat seorang sahabatku sendiri mengkhianatiku? Kamu ingat tidak saat teman-teman salah paham terhadapku? Kamu adalah orang pertama yang mengerti aku, berada dipihakku, dan selalu membelaku.

Setiap kali melihat lampu merah itu teringat kamu. Kamu ingat tidak saat aku tergesa-gesa mengejar lampu merah? Kamu adalah orang yang telah mengingatkan aku untuk berhati-hati dan tidak perlu mengejar lampu merah itu.

Dibonceng oleh seseorang dengan sepeda motor dengan kecepatan tinggi itu mengingatkan aku padamu. Kamu selalu membawaku dengan pelan, seolah-olah kamu menjaga dan melindungiku karena tidak mau aku terluka.

Rumus-rumus kimia yang memusingkan itu selalu mengingatkan aku padamu. Kamu ingat tidak saat kamu berbaik hati dan bersabar mengajarkan aku tentang Alkana, Alkena, Alkuna, dan rumus kimia yang memusingkan lainnya? Kamu adalah guru terbaikku.

Lalu..
Kamu masih ingat tidak pada suatu tanggal dimana kamu menepati janjimu, hari itu kamu memberiku suatu hadiah. Kau mengajariku tentang rumus kimia, mengajakku makan bersama, lalu… Ah, sudahlah! Aku tak mau lagi menjelaskan. Barangkali kamu sudah jauh melupakan.”

Cinta kita ternyata jauh lebih rumit dari rumus kimia yang kau hadiahkan padaku. Kau marah ketika aku menyebutmu sebagai guru dan sahabatku. Padahal apa lagi yang ku harapkan darimu selain guru dan sahabat pendamping hidupku?

Kita tidak pernah mengungkapkan kata cinta satu sama lain, tapi ketika mata kita saling berpaut, hati kita ikut bereaksi, seperti halnya larutan Perak Nitrat yang akan bereaksi dengan menimbulkan endapan berwarna coklat ketika ditambahkan dengan larutan basa kuat, Natrium Hidroksida.

Real created by: Widya Asnita